28
Jun

Bellum Omnes Contra Omnium*

(*: Lat: perang semua melawan semua)

Saya tidak tahan untuk mengkoreksi demikian kelirunya media massa kita saat ini dalam menggunakan istilah.

Drama tragedi kerusuhan demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR dikomentari sebagai aksi “anarkistis”. Di segi kebahasaan, ini sudah merupakan pleonasme; penggunaan secara berlebih-lebihan. Sama kelirunya dengan “pesimistis” dan “optimistis”. Cukuplah “anarkis” untuk menggambarkan kondisi yang bersifat anarki, pun demikian “pesimis” dan “optimis”.

Di segi keilmuan, komentar “anarkis” tidakkah terlalu naif? Anarkisme dijelaskan sebagai ideologi yang menentang segala bentuk pemerintahan legal dan melakukan berbagai cara untuk meruntuhkannya untuk menciptakan kondisi masyarakat tanpa pemerintahan. Sekarang bila kita tinjau, apakah aksi tersebut dapat digolongkan sebagai upaya menjatuhkan pemerintahan yang ada? Saya kira tidak. Sudah sejak lama tindakan kekerasan diberi julukan “anarkis”. Sayang media telah turut menyebarluaskan informasi yang salah mengenai anarkisme kepada publik kita.

Bulan ini rasanya kita makin kebal terhadap berita demonstrasi yang berujung kerusuhan di televisi. Kenaikan BBM memicu kerusuhan UNAS yang berujung pada gugurnya putra bangsa Alm. Maftuh Fauzi. Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan berkeyakinan(AKKBB) bentrok di Monas gara-gara silang pendapat mengenai Ahmadiyah. Terakhir kerusuhan di depan gedung DPR/MPR yang diklimaksi dengan pembakaran sebuah Avanza berplat merah.

Saya tidak berniat mengintervensi pandangan politik orang-orang itu. Toh saya juga punya pandangan sendiri dan tidak rela diintervensi.

Saya pun merasakan dampak kenaikan BBM. Selama satu hari boleh dibilang saya shock, karena sebelumnya tidak mengikuti berita dan suatu malam pemerintah (tiba-tiba) menaikkan harga BBM. Sebagai bagian umat, saya pun memahami paham Ahmadiyah memang melenceng dari akidah.

Persoalannya adalah cara saudara-saudara kita menyampaikan pandangan politik mereka pada Pemerintah (pada merekakah? Atau pada siapa?). Turun ke jalan beramai-ramai, aksi long march damai, orasi-orasi. Sampai di sana masih wajar. Namun ada kalanya pelan-pelan muncul “rasa terlindungi” dalam kelompok, “rasa aman”. Disambut oleh provokasi entah-siapa. Amarah terbakar. Demonstrasi pun berubah menjadi huru-hara.

Perhatikanlah huru-hara tersebut. Demikianlah mungkin laboratorium lapangan tempat kita bisa mengobservasi bagaimana Thomas Hobbes pernah memberikan julukan Homo homini lupus- manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Tidak ada lagi pandangan politik yang diperjuangkan, ini semua bukan tentang itu. Ini tentang adrenalin yang memuncak, batu-batu yang berdesing di atas kepala kita, ledakan bom-bom molotov, dan semburan gas air mata. Ditimpuk atau menimpuk. Dipukul atau memukul. Siapa menyerang berarti musuh. Tidak berani, maka lari, lari selamatkan dirimu. Sempurnalah kondisi bellum omnes contra omnium- perang semua melawan semua.

Ada, saya yakin, cara-cara yang lebih bermartabat dan lebih konsisten dalam memperjuangkan pandangan politik. Saya khawatir kita terjebak dalam euforia sepuluh tahun yang lalu, ketika demonstrasi besar-besaran berhasil menggulingkan rezim yang sudah 32 tahun bercokol. Era reformasi ditandai dengan meningkatnya secara tajam frekuensi unjuk rasa. Saya tidak mengatakan itu salah: itu sah dan dijamin haknya secara hukum. Yang saya coba utarakan adalah mau dibawa ke mana kedewasaan politik jika aspirasi hanya bisa disampaikan lewat demonstrasi- apalagi yang berujung kerusuhan?

Saat ini saya menggugat peran wakil-wakil rakyat di badan legislatif.. Mengapa sampai saat ini partai politik dan kadernya yang duduk di kursi Dewan belum menunjukkan kegiatan penghimpunan aspirasi dari rakyat yang diwakilinya, semisal membuka kantor pelayanan aspirasi, nomor hotline, atau katakanlah sekedar e-mail yang dirilis kepada konstituennya? Mengapa seolah-olah kami hanya didengar jika kami berdemonstrasi (Atau saya salah? Pernahkah Anda sekalian mendengar kami berdemonstrasi?)?

Saya, kami membutuhkan jalur yang lebih pragmatis untuk menyampaikan pandangan. Dengan begitu kami bisa memperjuangkan pandangan politik secara konsisten, dan jawabannya bukan kekerasan melainkan dialog. Sebab kami juga manusia.

(Ditulis oleh seorang pembaca koran dan pemirsa berita, bukan pakar politik. Saya tidak tahu apa yang saya tulis seluruhnya benar, tapi demikianlah pandangan saya. Oleh karena itu, komentar sangat diharapkan. Terima kasih.)

21
Jun

Obsesi: Detektif!

“When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth.” – Sherlock Holmes.

Sherlock Holmes (Wikipedia)

Tidak sedikit orang yang saya temui membenci matematika. Saya merasa itu lucu. Walaupun terkadang saya pun pusing mengulik polinomial dan trigonometri, memecahkan sebuah soal memberikan saya kepuasan yang mungkin setara dengan sebuah impian yang sulit terwujud dalam realita, terutama di Indonesia. Menjadi detektif.

Apa bedanya memecahkan soal matematika dengan sebuah kasus? Soal memberikan Anda hampir semua hal yang perlu diketahui untuk memecahkannya. Tentu Anda juga harus memiliki bekal prinsip-prinsip matematika yang mendukung pemecahan soal tersebut. Dengan informasi dari soal, pengetahuan matematika yang cukup, kemampuan berpikir logis, dan tentunya kesabaran, soal matematika mestinya bukanlah sesuatu yang pantas muncul dalam mimpi buruk.

(Banyak orang menyerah setelah mencoba membaca sebuah soal yang panjang dengan banyak ketentuan dan perincian, mengira itu terlalu rumit dan sukar dipecahkan. Padahal seperti sebuah kasus, makin banyak perincian yang kita peroleh, makin terang jalan di hadapan kita untuk memecahkannya. Soal yang panjang memberikan banyak petunjuk yang sebenarnya justru memudahkan kita. Sadarkah Anda?)

Shinichi Kudo alias Conan Edogawa

Saya lebih dahulu menyukai cerita detektif dibandingkan matematika. Referensi pertama diberikan oleh teman saat kelas 4 SD: Detektif Conan (oleh Aoyama Gosho). Membaca cerita detektif berarti berlatih menjadi pembaca intensif, di mana kita didorong untuk menjadi pengamat yang baik dalam setiap kejadian yang tergambarkan, mencatat setiap informasi yang mungkin berhubungan, menganalisis motif orang-orang yang terlibat, dan mampu mengontemplasikan hubungan runut suatu peristiwa sehingga terbentuk simpulan. Kenalkah Anda pada perasaan tertantang ketika bertemu dengan suatu kasus yang begitu mustahil ditemukan pemecahannya? Atau sensasi kepuasan yang meluap ketika analisis Anda mengenai suatu kasus ternyata benar? Atau perasaan kagum ketika sesuatu yang tidak dapat Anda pahami ternyata mampu terjelaskan secara logis dan gamblang sehingga Anda menertawakan diri sendiri karena begitu bodoh tidak sampai memikirkannya? Coba tanyakan hal itu pada para mania cerita detektif. Saya bertaruh mereka semua mengenalnya.

Dari Conan, pelan-pelan saya berkenalan dengan Kindaichi (oleh Fumiya Sato dan Seiru Amagi), Sherlock Holmes (siapa lagi kalau bukan Sir Arthur Conan Doyle yang termasyhur), Detective School Q (lagi-lagi Fumiya Sato, Seimaru Amagi, dan Yozaburo Kanari), Miss Marple, dan Hercule Poirot (keduanya oleh ratu cerita detektif, Agatha Christie). Semakin banyak koleksi “kasus kriminal” di dalam memori saya, yang mungkin tidak akan saya temukan terjadi di dunia nyata (atau mungkin Indonesia? :) ). Cerita favorit saya sampai saat ini adalah Sepuluh Anak Negro oleh Agatha Christie (doakan saya sempat meresensinya di sini) dan Kasus Boneka Menari oleh Sir Arthur Conan Doyle.

Apa yang saya peroleh dari cerita-cerita detektif itu?

Mereka mendorong saya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Untuk memecahkan kasus, ada disiplin ilmu sangat luas yang bisa digunakan. Ternyata masih banyak hal-hal yang belum saya ketahui di dunia ini. Saya pun terdorong untuk membaca lebih banyak buku, belajar hal-hal baru, menjelajahi Wikipedia dan Google.

Saya juga belajar melihat suatu hal dari berbagai sisi. Kadang penulis dengan cerdiknya menempatkan plot cerita sehingga kecurigaan kita tertuju pada seseorang, padahal ia bukan si penjahat. Berkali-kali saya terkecoh dan mengalami kekecewaan karena ternyata analisis saya salah… Hal itu mendorong saya untuk tetap berhati-hati mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum benar-benar yakin. Terdengar terlalu serius? Memang di sanalah serunya.

Walaupun detektif terkesan sosok manusia setengah-dewa nan cerdas, tak jarang kita menemukan celah-celah gelap kepribadiannya. Detektif favorit saya, Holmes, misalnya, adalah pecandu kokain sejati. Ia memiliki alasan hanya kokain-lah yang bisa “merangsang” otaknya ketika kasus sedang sepi. Kindaichi memiliki kebiasaan yang, hm, mesum. Yah, mereka juga bukan sosok teladan yang sempurna, saya kira. Tapi metode analisis kasus mereka boleh lah diacungi jempol.

Jadi, apakah Anda juga “detektif amatir” seperti saya?

13
Apr

Mencoblos, Lalu Apa?

Ketika saya menulis posting kali ini, masih sayup-sayup terdengar suara penghitungan suara di TPS yang berjarak hanya beberapa rumah. Hari ini provinsi di mana saya tinggal untuk pertama kalinya melaksanakan pemilihan gubernur secara langsung. Saya tidak berpartisipasi. Pertama, saya baru mencapai usia pemilih dua hari yang lalu, sehingga praktis belum terdaftar sebagai pemilih. Kedua, jika terdaftar sekali pun, saya tidak tahu akan memilih siapa.

Apa yang membedakan minggu-minggu ini dengan minggu-minggu lainnya hanyalah tumbuhnya baliho di mana-mana, memampang wajah pasangan calon gubernur dan wakilnya. Persis seperti iklan restoran fast-food di sebelahnya yang sedang mempromosikan menu paket hemat. Bahkan iklan fast-food itu jauh lebih informatif daripada gambar dua orang berjas itu. Maksud saya, iklan fast-food itu sama-sama menempatkan ilustrasi, seporsi nasi dengan dua potong ayam goreng tepung dan segelas softdrink plus harganya. Namun saya bisa dengan langsung mempertimbangkan bahwa paket hemat tersebut memang mampu mengenyangkan perut dan harganya lebih murah daripada restoran saingannya dan suatu saat mungkin saya akan mampir untuk makan di sana. Sedangkan baliho pasangan calon kepala daerah tadi? Saya cuma tahu wajah mereka, nomor urut mereka, akronim nama mereka, dan slogan mereka. Cuma itu. Membingungkan dan tidak jelas. Saya tidak memperoleh alasan yang jelas mengapa harus memilih mereka. Mungkin lain kali mereka perlu merekrut tim marketing restoran fast-food untuk menciptakan strategi kampanye yang lebih menjual. :)

Baiklah, marilah meninggalkan strategi kampanye yang bukan ruang lingkup kita. Ini tentang sesuatu yang lebih banyak menyangkut hidup kita.

Ini adalah pertama kalinya provinsi ini memilih gubernur secara langsung. Ada tiga pasangan yang bersaing: gubernur yang sedang menjabat, tokoh nasional yang pernah menjadi calon wakil presiden, bahkan aktor film action. Dari berbagai media, saya bisa melihat betapa besar harapan masyarakat dengan adanya pemilihan ini. Semua sudah lelah dengan kondisi ekonomi saat ini; kemajuan, itulah yang diinginkan semuanya.

Sayang, banyak di antara kita yang masih hidup di Negeri Dongeng. Mereka ikut mencoblos, dan berharap gubernur baru adalah Nirmala yang dengan mengayunkan tongkat wasiat sambil berucap “Simsalabim!” akan menciptakan keajaiban. Ya, mereka menganggap hanya dengan mencoblos gubernur baru, segala-galanya akan berubah.

Masyarakat kita masih memandang demokrasi dalam perspektif begitu sederhana: mencoblos dalam pemilu. Selesai mencoblos, kewajiban pun tuntas; sang pemimpin yang terpilih dibiarkan mengemban tugas pemerintahan begitu saja hingga pemilu selanjutnya tiba.

Salah satu mata rantai yang hilang dalam demokrasi kita adalah partisipasi masyarakat. Demokrasi dianggap mewah dan tidak dijalankan setiap hari: ia hanya dilaksanakan lima tahun sekali dan dirayakan besar-besaran dengan biaya bertrilyun rupiah sebagai pesta demokrasi. Dan setelah pesta itu selesai, semua kembali pada rutinitas masing-masing, lupa dengan pemimpin yang terpilih, hingga tiba pesta berikutnya.

Tidak heran partisipasi politik masyarakat kita masih rendah. Prioritas utama yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya agar besok bisa makan, bisa membayar uang sekolah, bisa beli minyak tanah untuk masak, bisa beli bensin. Tentu memikirkan apa kerja pemerintah ada di bawah semua itu. Perubahan seperti apa yang akan terjadi tanpa masukan dan pengawasan masyarakat dalam proses pembutan kebijakan?

Gubernur baru saja, menurut saya, tidak akan membawa perubahan signifikan. Memang ada program-program yang dijanjikan sejak kampanye. Namun staf pemerintahan masih yang itu-itu juga, tidak mungkin terjadi peningkatan kapasitas kerja yang tiba-tiba. Satu-satunya yang bisa diubah adalah etos kerja yang baru dalam kantor pemerintah, bagaimana pemimpin yang baru bisa mendorong stafnya untuk bekerja lebih efisien dan tak kenal lelah dalam melayani masyarakat.

Perubahan yang signifikan tidak akan terjadi hanya dengan adanya gubernur yang baru. Masyarakat yang dipimpin masih itu-itu juga, dengan perilaku yang juga begitu-begitu saja. Pemimpin baru memang membawa program-program baru serba canggih, namun apa gunanya jika perilaku masyarakat masih seperti dulu dan enggan ikut berubah? Tidak ada yang jelek dari Perda K3, tapi ketidakpedulian masyarakat untuk mengubah perilakunya telah menggagalkan kebijakan ini. Sekali lagi, gubernur baru tidak akan membawa perubahan signifikan.

Bodoh jika kita melepaskan tanggung jawab sepenuhnya untuk menciptakan perubahan pada walikota baru, gubernur baru, presiden baru, atau pemimpin baru di tingkat manapun. Itulah sebabnya berkali-kali kita mengganti pemimpin dan kondisi yang kita rasakan masih begini-begini saja. Kita sudah tertinggal jauh dibandingkan bangsa-bangsa lain, yang harus kita lakukan adalah berlari dua, tiga kali lebih cepat dari yang sekarang. Mulai dari diri kita sendiri.

Coba introspeksi, adakah keinginan kita untuk berubah? Apa yang telah kita lakukan selain sekedar mencoblos? Maukah kita mengubah etos kerja yang kita miliki saat ini untuk bekerja lebih produktif? Bisakah kita meluangkan waktu sejenak untuk mengkritisi kebijakan pemerintahan?

Selamat dalam pemilihan umum kali ini lebih tepat tidak ditujukan untuk gubernur baru yang terpilih, melainkan kepada masyarakat. Selamat berubah.




 

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengarang