21
Feb
09

Dokter Ernesto

Ia adalah salah seorang manusia besar dari abad yang lalu. Sosok yang melegenda ini mungkin adalah dokter paling terkenal, sekaligus yang paling tidak terkenal sebagai seorang dokter.

Ernesto

Ernesto

Lanjutkan membaca ‘Dokter Ernesto’

01
Feb
09

Semarang, Solo, Jogja (6): Empat Remaja Manis dalam Kereta Malam Jogja-Bandung

Ini adalah jurnal perjalanan liburan semester saya bersama tiga orang teman pada awal Januari lalu. Rencana awal untuk mengunjungi Semarang dan Solo saja mendadak bergulir liar hingga akhirnya kami pun singgah ke Kota Gudeg, Yogyakarta.

Solo

6 Januari 2009

Pagi ini kami bangun dan bersiap-siap dengan santai. Kereta baru akan datang pukul 09.30 dan Stasiun juga tidak jauh. Kami bahkan sempat mengatur untuk sarapan di suatu tempat dekat stasiun. Rencana yang tepat, karena sarapan pagi hotel hanya beberapa potong roti dan telur rebus saja. Setelah packing dan beberapa orang dari kami mandi (saya tidak), pukul 08.00 kami check-out dari hotel dan dengan bus kota menuju ke stasiun.

Tiba di stasiun, kami membeli tiket Prambanan Ekspres ke Jogja sekaligus Lodaya Malam untuk pulang ke Bandung malam itu. Anggap saja jalan-jalan di Jogja itu sekadar membuang waktu menunggu kereta malam ini. Kebetulan rute Lodaya memang melewati Jogja. Kami sarapan di warung depan stasiun yang menjual Soto Kuali. Soto yang enak dan segar, murah pula, Rp4.000,00 seporsi. Kereta datang tepat waktu dan kami pun segera menuju ke Jogja. Rasanya semalam di Solo itu hanya menumpang makan dan menginap saja, cepat sekali berlalu.

Lanjutkan membaca ‘Semarang, Solo, Jogja (6): Empat Remaja Manis dalam Kereta Malam Jogja-Bandung’

01
Feb
09

Semarang, Solo, Jogja (5): Momen Sentimental di Solo

Ini adalah jurnal perjalanan liburan semester saya bersama tiga orang teman pada awal Januari lalu. Rencana awal untuk mengunjungi Semarang dan Solo saja mendadak bergulir liar hingga akhirnya kami pun singgah ke Kota Gudeg, Yogyakarta.

Semarang

5 Januari 2009

Syukur kami bangun tepat waktu pagi itu. Walau begitu, semua persiapan akhirnya dilakukan dengan terburu-buru juga. Kami mandi, packing, sarapan, memanggil taksi, dan akhirnya sampai di Stasiun Tawang pukul 05.45. Ketika turun taksi, entah kenapa semua porter meneriaki kami agar cepat-cepat mengejar kereta yang akan segera berangkat. Yang lain menjadi panik, padahal saya yakin betul kereta kami baru berangkat pukul 06.30. Rupanya yang dimaksud adalah kereta ke Jakarta yang saat itu tengah mulai bergerak. Sementara kami membeli tiket kereta ekonomi ke Solo, dua orang wanita tiba-tiba datang tergopoh-gopoh. Drama terjadi pagi itu, karena kedua wanita ini baru saja ketinggalan kereta tadi. Air mata pun menetes, sementara penjaga peron tidak membiarkan mereka lewat dan mengejar kereta yang sudah bergerak. Kiranya inilah yang mungkin terjadi jika kami terlambat datang ke stasiun.

Lanjutkan membaca ‘Semarang, Solo, Jogja (5): Momen Sentimental di Solo’

01
Feb
09

Semarang, Solo, Jogja (4): Lawang Sewu, Sam Poo Kong, dan Rencana Baru!

Ini adalah jurnal perjalanan liburan semester saya bersama tiga orang teman pada awal Januari lalu. Rencana awal untuk mengunjungi Semarang dan Solo saja mendadak bergulir liar hingga akhirnya kami pun singgah ke Kota Gudeg, Yogyakarta.

Semarang

4 Januari 2009

Rencana hari ini tidak begitu mulus. Malam tadi kami tidur terlalu larut dan dalam keadaan terlalu lelah. Fakhry adalah yang pertama kali bangun pukul 05.30. Ia pun meng-SMS untuk membangunkan saya. Namun, saya punya kebiasaan selalu mematikan ponsel ketika tidur. Apa daya, SMS itu tidak berefek apa-apa. Fakhry pun kemudian tidur kembali.

Satu per satu kami bangun. Membangunkan yang masih tidur merupakan tantangan yang sangat berat. Kami semua baru benar-benar bangun sekitar pukul 08.00. Kami bergiliran mandi, kemudian sarapan. Sarapan yang mengibakan hati karena menu hari ini hanya dua potong roti untuk masing-masing orang. Matahari sudah tinggi dan dari gereja di dekat penginapan terdengar gema lonceng. Oh, ini hari Minggu rupanya. Liburan membuat kami merasa tiap hari adalah Minggu.

lawang-sewu-depan

Lawang Sewu, tujuan pertama kami pagi itu, benar-benar dekat dari penginapan. Berjalan kaki sebentar saja kami sudah sampai ke gedung bekas kantor maskapai kereta api Belanda itu. Fasad bangunan kolonial yang indah ini menyambut kami. Megah dan kokoh, hampir seperti benteng. Terasa gema dari masa lalu di balik setiap lekuk ornamennya, masa lalunya yang indah dan masa lalunya yang kelam. Pada Pertempuran Lima Hari di Semarang, putra-putra bangsa gugur di tempat ini. Sebuah monumen dibangun di sisi gedung untuk mengenang para martir itu. Lanjutkan membaca ‘Semarang, Solo, Jogja (4): Lawang Sewu, Sam Poo Kong, dan Rencana Baru!’

01
Feb
09

Semarang, Solo, Jogja (3): Stasiun Tawang, Kota Lama, dan Semawis!

Ini adalah jurnal perjalanan liburan semester saya bersama tiga orang teman pada awal Januari lalu. Rencana awal untuk mengunjungi Semarang dan Solo saja mendadak bergulir liar hingga akhirnya kami pun singgah ke Kota Gudeg, Yogyakarta.

Semarang

3 Januari 2009

Rencana awal, makan siang akan dilakukan di Rumah Makan Ayam Goreng Mbok Berek, rekomendasi dari Aldi. Namun, alamat yang ada di buku panduan peta Semarang membawa kami ke… bengkel mobil. Duh. Jalan terakhir, kami yang sudah terlanjur lapar bertaruh menjajal sebuah warung kaki lima di dekat sana. Ternyata enak! Menunya ayam bakar yang berbumbu manis dengan cocolan sambal pecel. Puas dan kenyang dengan harga yang murah.

Kami naik taksi ke Stasiun Tawang yang sekaligus dekat dengan Kota Lama. Taksi melaju ke utara, melintasi sebagian kecil Kota Lama. Uniknya, jalan raya di daerah Kota Lama tidak diaspal, tetapi dilapisi paving block saja. Tidak berapa jauh, kami tiba di stasiun. Stasiun Tawang adalah stasiun kereta api kedua yang dibangun Belanda di Indonesia. Sayang sekali, stasiun pertama kini hanya tinggal reruntuhan saja, sehingga praktis Tawang menjadi stasiun tertua di Indonesia. Beruntung saat itu sedang tidak banjir. Saya pernah melihat di televisi bagaimana Stasiun bisa terendam air hingga setengahnya saat air meluap!

depan-tawang

Lanjutkan membaca ‘Semarang, Solo, Jogja (3): Stasiun Tawang, Kota Lama, dan Semawis!’

01
Feb
09

Semarang, Solo, Jogja (2): Pagi Pertama di Semarang

Ini adalah jurnal perjalanan liburan semester saya bersama tiga orang teman pada awal Januari lalu. Rencana awal untuk mengunjungi Semarang dan Solo saja mendadak bergulir liar hingga akhirnya kami pun singgah ke Kota Gudeg, Yogyakarta.

Bandung dan Perjalanan

2 Januari 2009

Saya, Fakhry, dan Yorga berkumpul di sekolah untuk bersama-sama menuju pool bus Bandung Ekspress. Aldi rupanya terlambat sehingga langsung ke sana. Sekali lagi Aldi membuat kejutan: sebuah DSLR Canon EOS 40D! Alangkah bersyukurnya kami, ternyata ada juga yang membawa kamera (dan bagus pula!).

Bus berangkat dari Jalan Dr.Cipto pukul 19.00 WIB. Kami duduk bersebelahan; saya duduk bersama Aldi, Fakhry duduk dengan Yorga. Oh ya, agar efektif kami membuat pembagian tugas dalam perjalanan. Saya resmi ditunjuk sebagai project leader (merangkap seksi kesehatan, sebenarnya, karena yang lain tidak membawa obat-obatan pribadi! Coba Anda bayangkan!). Aldi yang membawa si seksi EOS 40D itu menjadi seksi dokumentasi. Yorga yang gemar berbincang akrab, bahkan dengan orang yang baru dikenal di jalan, menjadi humas. Fakhry yang ekonomis dan teliti menjadi bendahara.

Nampaknya perjalanan dengan bus non-AC ini menjadi pengalaman unik bagi Fakhry dan Yorga. Segala macam dikomentari: berbagai dagangan dan metode penawaran pedagangnya di Terminal Cicaheum, suara tangisan anak kecil dari bangku belakang, dan entah apa lagi, yang praktis membuat deretan bangku kami jadi paling berisik. Saya dan Aldi terjebak dalam percakapan panjang selama menempuh Bandung – Cirebon. Di Cirebon, bus berhenti dan kami turun untuk sholat Isya serta makan malam. Setelah bus berjalan kembali, masing-masing mulai jatuh tertidur.

Tidur saya tidak pulas. Posisi kursi di bus memang tidak senyaman itu. Ketika terbangun, saya iri melihat yang lain sepertinya begitu lelap. Konyolnya, ketika saya tertidur kembali, ada juga yang terbangun melihat ke sekeliling dan berpikir hal yang sama. Jadi, sebenarnya tidur kami semua tidak nyenyak.

Lanjutkan membaca ‘Semarang, Solo, Jogja (2): Pagi Pertama di Semarang’




ryansight

Saya menikmati waktu sendiri, ketika saya bebas menjadi diri saya seutuhnya dan melakukan apa yang benar-benar saya suka. Merenung, berandai-andai, membaca sesuatu yang inspiratif, menikmati musik psikedelik atau jazz, menonton film yang membelalakkan mata, dan menulis. Ya, dulu saya sempat punya keinginan muluk-muluk ingin menginspirasi banyak orang. Tapi menulis memberi saya lebih dari itu: sebuah sesi terapi yang bisa membuat saya tetap "waras" di tengah kerasnya tabrakan nilai-nilai hidup. Pernah dengar "dialektika"? Tesis, antitesis, sintesis. Mari bertukar pikiran.
ryansight menghitung hari menuju UN 2009 dan SNMPTN 2009 serta mengucapkan selamat bertarung bagi rekan-rekan seperjuangan.

kita berbicara tentang apa saja

Muhammad Aprianto Ramadhan's Facebook profile

berani menggali ide baru?

 

Juli 2009
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

kutipan

"Hidup tanpa harta adalah kesengsaraan. Hidup tanpa ilmu adalah kegelapan. Hidup tanpa cinta adalah penderitaan. Namun bencana paling buruk adalah hidup tanpa pemaknaan, karena sebenarnya Anda tidak benar-benar hidup..." - ryansight