(*: Lat: perang semua melawan semua)
Saya tidak tahan untuk mengkoreksi demikian kelirunya media massa kita saat ini dalam menggunakan istilah.
Drama tragedi kerusuhan demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR dikomentari sebagai aksi “anarkistis”. Di segi kebahasaan, ini sudah merupakan pleonasme; penggunaan secara berlebih-lebihan. Sama kelirunya dengan “pesimistis” dan “optimistis”. Cukuplah “anarkis” untuk menggambarkan kondisi yang bersifat anarki, pun demikian “pesimis” dan “optimis”.
Di segi keilmuan, komentar “anarkis” tidakkah terlalu naif? Anarkisme dijelaskan sebagai ideologi yang menentang segala bentuk pemerintahan legal dan melakukan berbagai cara untuk meruntuhkannya untuk menciptakan kondisi masyarakat tanpa pemerintahan. Sekarang bila kita tinjau, apakah aksi tersebut dapat digolongkan sebagai upaya menjatuhkan pemerintahan yang ada? Saya kira tidak. Sudah sejak lama tindakan kekerasan diberi julukan “anarkis”. Sayang media telah turut menyebarluaskan informasi yang salah mengenai anarkisme kepada publik kita.
Bulan ini rasanya kita makin kebal terhadap berita demonstrasi yang berujung kerusuhan di televisi. Kenaikan BBM memicu kerusuhan UNAS yang berujung pada gugurnya putra bangsa Alm. Maftuh Fauzi. Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan berkeyakinan(AKKBB) bentrok di Monas gara-gara silang pendapat mengenai Ahmadiyah. Terakhir kerusuhan di depan gedung DPR/MPR yang diklimaksi dengan pembakaran sebuah Avanza berplat merah.
Saya tidak berniat mengintervensi pandangan politik orang-orang itu. Toh saya juga punya pandangan sendiri dan tidak rela diintervensi.
Saya pun merasakan dampak kenaikan BBM. Selama satu hari boleh dibilang saya shock, karena sebelumnya tidak mengikuti berita dan suatu malam pemerintah (tiba-tiba) menaikkan harga BBM. Sebagai bagian umat, saya pun memahami paham Ahmadiyah memang melenceng dari akidah.
Persoalannya adalah cara saudara-saudara kita menyampaikan pandangan politik mereka pada Pemerintah (pada merekakah? Atau pada siapa?). Turun ke jalan beramai-ramai, aksi long march damai, orasi-orasi. Sampai di sana masih wajar. Namun ada kalanya pelan-pelan muncul “rasa terlindungi” dalam kelompok, “rasa aman”. Disambut oleh provokasi entah-siapa. Amarah terbakar. Demonstrasi pun berubah menjadi huru-hara.
Perhatikanlah huru-hara tersebut. Demikianlah mungkin laboratorium lapangan tempat kita bisa mengobservasi bagaimana Thomas Hobbes pernah memberikan julukan Homo homini lupus- manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Tidak ada lagi pandangan politik yang diperjuangkan, ini semua bukan tentang itu. Ini tentang adrenalin yang memuncak, batu-batu yang berdesing di atas kepala kita, ledakan bom-bom molotov, dan semburan gas air mata. Ditimpuk atau menimpuk. Dipukul atau memukul. Siapa menyerang berarti musuh. Tidak berani, maka lari, lari selamatkan dirimu. Sempurnalah kondisi bellum omnes contra omnium- perang semua melawan semua.
Ada, saya yakin, cara-cara yang lebih bermartabat dan lebih konsisten dalam memperjuangkan pandangan politik. Saya khawatir kita terjebak dalam euforia sepuluh tahun yang lalu, ketika demonstrasi besar-besaran berhasil menggulingkan rezim yang sudah 32 tahun bercokol. Era reformasi ditandai dengan meningkatnya secara tajam frekuensi unjuk rasa. Saya tidak mengatakan itu salah: itu sah dan dijamin haknya secara hukum. Yang saya coba utarakan adalah mau dibawa ke mana kedewasaan politik jika aspirasi hanya bisa disampaikan lewat demonstrasi- apalagi yang berujung kerusuhan?
Saat ini saya menggugat peran wakil-wakil rakyat di badan legislatif.. Mengapa sampai saat ini partai politik dan kadernya yang duduk di kursi Dewan belum menunjukkan kegiatan penghimpunan aspirasi dari rakyat yang diwakilinya, semisal membuka kantor pelayanan aspirasi, nomor hotline, atau katakanlah sekedar e-mail yang dirilis kepada konstituennya? Mengapa seolah-olah kami hanya didengar jika kami berdemonstrasi (Atau saya salah? Pernahkah Anda sekalian mendengar kami berdemonstrasi?)?
Saya, kami membutuhkan jalur yang lebih pragmatis untuk menyampaikan pandangan. Dengan begitu kami bisa memperjuangkan pandangan politik secara konsisten, dan jawabannya bukan kekerasan melainkan dialog. Sebab kami juga manusia.
(Ditulis oleh seorang pembaca koran dan pemirsa berita, bukan pakar politik. Saya tidak tahu apa yang saya tulis seluruhnya benar, tapi demikianlah pandangan saya. Oleh karena itu, komentar sangat diharapkan. Terima kasih.)
very nice post.
eta pisan!
yang bisa bikin damai secara langsung cuma kepolisian.
there’s little we can do but yell ‘peace’.