Siang tadi guru Fisika saya memulai kelas dengan menyatakan keterkejutannya pada kami. Beliau merasa “bangga” karena kami telah mencapai nilai rata-rata amat tinggi dalam UTS kemarin: 72. Wah, kami sangat senang karena itu berarti sebagian besar siswa memperoleh nilai yang memuaskan.
Guru Fisika saya itu heran karena pencapaian tersebut jomplang dengan nilai ulangan harian kami. Beliau kemudian membacakan nama-nama mereka yang memperoleh nilai tertinggi. Beberapa nama memang sesuai harapan. Tapi ada juga nama-nama yang membuat saya mengerutkan kening. Wah, hebat sekali dia, batin saya. Anehnya, nama-nama tidak familiar itu kesemuanya mendapat nilai yang persis sama.
Saya mencoba berprasangka baik. Semua orang belajar dengan keras sehari sebelum ulangan tersebut: minta tambahan di bimbel, latihan soal-soal, belajar bersama, bangun tengah malam untuk belajar. Tapi mata, telinga, dan hati tidak bisa dibohongi. Saya menyaksikan apa saja yang terjadi di ruangan sebelum dan selama ujian berlangsung. Telepon genggam yang disembunyikan dari pengawas, getar atau nada panggilannya ketika menerima pesan singkat, kode-kode dan bisik-bisik di belakang pengawas, semuanya tak luput dari perhatian. Pertukaran informasi dilakukan diam-diam, pelan-pelan, hingga demikian berisik. Ketidakjujuran, Saudara-saudari, dirayakan besar-besaran tanpa malu, seperti korupsi di negara ini.
Separuh dari diri saya merasa berang karena jelas-jelas dikangkangi oleh kezaliman ini. Bagaimana tidak, usaha sungguh-sungguh saya dikalahkan oleh kepicikan oportunistik bernama menyontek dan “jarkom”, alias kunci jawaban yang disebarkan secara berantai dari ponsel ke ponsel.
Separuh diri saya yang lain merasa bangga karena dengan usaha yang jujur saya bisa mecapai indikator nilai sekian, sedangkan orang-orang itu harus berkubang dalam lumpur dosa demi mencapai nilai yang sama atau bahkan lebih tinggi. Saya puas karena jujur pada diri sendiri, dan itu menyebabkan saya bisa lebih menghargai kemampuan saya.
Confucius berkata, “If you know, tell that you know. If you don’t know, tell that you don’t. That’s knowledge.”. Motto sekolah saya berujar, “Knowledge is power, but character is more.”.
Menyontek buat saya tak ubahnya seperti menambahkan air ke dalam susu murni. Dari luar mungkin Anda memang mendapatkan “hasil perahan” yang lebih banyak, tetapi ketika dicicipi susu campur air itu pasti hambar. Anda telah merusak susu yang seharusnya berkualitas tinggi, bergizi, dan menyehatkan. Susu tersebut justru menjadi lebih rendah nilainya.
Berbagai pembelaan diajukan oleh mereka yang menyontek. “Saya cuma menyontek beberapa soal kok, sisanya murni saya kerjakan sendiri!”. Oh, ayolah! Sekali Anda menambahkan air pada susu murni, biar sesendok atau semangkuk, ia jadi tak murni lagi. Siapa bisa menjamin berapa kadar kemurniannya, yang tahu cuma Anda — dan Tuhan, tentunya. Mau bagaimana pun Anda tidak bisa membuat saya yakin pada kualitas diri Anda yang sebenarnya, bisa saja 90 persen dibangun di atas kebohongan, siapa yang tahu? Oleh karena itu, saya sering tidak mampu menahan diri untuk tidak memandang rendah orang-orang yang menyontrek. Betapa rendah.
Sikap defensif lain yang biasa dikemukakan: “Iya deh, kamu pintar jadi ga perlu nyontek… Saya kan ga sepintar kamu!”. Klasik. Mungkin dia berharap saya akan sedikit berempati. Salah besar! Hidup mengajarkan saya bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini; untuk mendapatkan sesuatu kita harus membayar dengan harga tertentu. Menjadi “pintar” bukanlah keberuntungan yang datang tanpa diminta, ia dibayar dengan usaha keras untuk memperhatikan guru dengan sepenuh konsentrasi di kelas, manajemen waktu untuk mengulang pelajaran, melawan rasa malas belajar dengan susah payah, keseriusan mengerjakan tugas, semuanya berkesinambungan. Menyontek berarti Anda ingin tampil “pintar” dengan angka-angka menawan hati orangtua tertera di rapor, tapi menolak untuk berusaha dan memilih jalan pintas. Sekarang di sinilah paradoksnya, karena justru mereka yang mencontek yang berusaha mencari simpati dengan pernyataan tadi, di atas sebuah kelicikan. Betapa rendah.
Saya lebih miris mendengar jawaban seperti ini: “Mumpung sekarang masih kelas dua (atau kelas satu), wajar lah nyontek mah… Nanti kelas tiga baru jujur…”. Pesan dari seorang kakak kelas kepada adik-adiknya yang tercinta: “Adik-adikku, perubahan tidak terjadi dalam semalam begitu kalian naik ke kelas tiga. Buktinya teman-teman saya yang terbiasa menyontek dari kelas satu atau kelas dua masih membawa-bawa kebiasaan tersebut sampai sekarang. Dan tahukah kalian, mereka sedang berada dalam kesulitan besar karena hasil ulangan, UTS, atau try-out sebenarnya tidak menggambarkan kemampuan mereka. Siapa menjamin dalam seleksi perguruan tinggi mereka akan tembus, jika mereka sekarang terbuai oleh nilai-nilai palsu? Cepat atau lambat waktu akan memaksa kalian untuk jujur pada diri sendiri, jadi kenapa harus menunggu lama-lama? Berubahlah dari sekarang! Berhenti menyontek dalam bentuk apa pun! Hargailah kemampuan kalian sendiri, karena sebenarnya kalian semua cerdas!”
Saya yakin tidak ada orang yang terobsesi menjadi orang gagal. Semua orang tentu memimpikan dirinya berhasil. Sekarang izinkan saya bertanya, bagaimanakah Anda ingin membangun keberhasilan tersebut? Bagaimana Anda ingin mengenang perjuangan Anda menapaki jalan kesuksesan? Dengan kecurangan dan jalan belakang, atau dengan usaha keras yang mengerahkan semua potensi dalam diri Anda? Tidakkah dengan demikian kejujuran menjadi pantas diperjuangkan?

saya akui, saya menulis post ini dengan emosional. pelan-pelan saya mencari pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa saya menganggap rendah orang-orang yang menyontek. tidak ada maksud untuk menyakiti hati siapa-siapa, cuma ingin melepas kebuntuan emosi. sesudah menulis, saya merasa lega karena dua alasan: kegalauan hati sudah diungkapkan dan kebenaran telah disampaikan.
hmm. sarua urang ge. merasakan hal yang begitu “sarkastik” bagi mata kita. sedih oge. udah jadi budaya sih, jadi hese oge untuk mengonsolidasikan hal-hal positif. mudaha-mudahan we dpt hidayah dr Allah.
lebih baik menyalakan sebatang lilin betul???
Iya pri, di artikel ini seni menulisnya ketutup sama emosi yang meletup-letup walau berusaha ditutupi.
hahaha
Senada dengan Teori Reproduksi Kepemimpinan Maxwell
menyontek berasal dari kata “sontek” bukan “contek”
Just a bit of crakers
@insane
harapan saya sih minimal setelah membaca post ini orang-orang yang hari ini menyontek besok sudah tidak menyontek lagi. harapan maksimalnya sih semua pembaca blog ini bukan tukang nyontek, hahaha. ada rasa bersalah juga, ga pernah ngomong kaya gini langsung sama pelakunya. dari dulu sudah berusaha memberikan teladan, eh ketemunya jawaban-jawaban di atas. masalah hidayah memang bukan kekuasaan kita ya, dho!
@muhammadyorga
wah, senangnya! berarti post ini dianggap masih ada seninya, hahaha. soalnya, tujuan utama saya memang ingin menyalurkan emosi lewat cara yang lebih “intelek”. kalau emosinya sampai dan pembaca jadi ikut marah atau berjanji tidak nyontek lagi, berarti berhasil dong!
terima kasih tambahannya. kata sontek juga lebur ketika diberi awalan me-, sehingga menjadi “menyontek”.
@muhammadyorga
btw, teori reproduksi kepemimpinan maxwell tuh yang mana ya? bikin post-nya ya…
*applause
keren
lugas,singkat,meninggalkan kesan yg dalem ke pembaca tanpa harus membuat hati trsinggung,sebaliknya malah brpikir ulang ttg fakta dan opini yg anda utarakan
sy stuju.kmanakah character yg diagung-agungkan motto sman3 it?malah makin parah saja kcurangan-kcurangan yg sy liat d lapangan.
@fitri amalia
terima kasih ya sudah datang, membaca, dan memberi komentar! it means a lot for me..
sekolah kita tuh emang bagus banget, laboratorium kehidupan. mau cari ilmu, semua orang dapet kesempatan yang sama. kualitasnya tuh kerasa banget kalo udah di kelas tiga. tapi kalo keburu nyerah sama persaingan akademis, kita bisa melihat gejala-gejala penyimpangan seperti yang sama-sama kita lihat. saya sedih sekali, karena dulu terlalu memukul rata karakter anak-anak sekolah kita, sedangkan seperti inilah kenyataannya. hidup adalah pilihan, menarik sekali menyaksikan beberapa orang membuat pilihan-pilihan konyol seperti itu dalam hidupnya.
semoga bermanfaat!
Stuju!!amin2
temen sy komentar wkt bca blog in,katanya,”kamu ga sendirian yang jujur dan brjuang melawan yg menyontek”
hho…jd trpromosikan nih
ah,,
mencontek-mencontek..
sebuah perbuatan yg menyakitkan untuk dilakukan maupun untuk dilihat..
Dulu,
jengkel dan kesal rasanya melihat orang mendapat hasil yg memuaskan dri hasil mencontek, saya yang mendaptkan nilai rata-rata merasa tidak puas dengan hasil sndiri dan slalu membanding-bandingkan dengan nilai tersebut
Sekarang,
ngeliat yg nyontek dapet nilai bgus?
ngak peduli lagi, biar saja, toh itu urusan mereka, urusan saya ya saya, mereka ya mereka, toh nanti juga akhirnya tetap terlihat perbedaannya
hehe
*btw, saya akhirnya ke kommen lgidi blog kmu juga pri, setelah sekian lama..hehehe..
*plok plok plok*
keren. singkat padat jelas.
yang paling sakit hati sih, UTS saya ternyata dicontekin orang, ga pake etika lagi nyonteknya, jadi nilainya sama semua gitu. sedih.
*wanna add ur blog to my blogroll
ah mau nangis bacanya, kang. terhenyak
saya termasuk org yg sedang merubah sekuat tenaga kebiasaan itu. sadar sepenuh hati bahwa itu gada untungnya! tapi untuk berubah itu susah buanget yaaaah
D
tapi tetep hrs dilawan nafsunya. hahaha! gahol euy blognya.
nicely done..
hhe..
dapet banget emosinya pri..hhe
semoga kita tetep istiqamah..
amin..
jadi inget insiden di kelas saya yang terkait sama si guru fisika. kaitannya dengan menyontek itu. mencoreng nama kelas? haha. bisa jadi.
intinya ga boleh nyontek!
ayo kita lihat, besok di UAS masih ada yang nyontek ga yaa?? hhe.
*first visit to ur blog, pri. gaya euy. hehe
speechless sey. hehe.
kejadian yang klasik dan terjadi secara konstan dan tidak pernah dapat dihentikan .
ya, kebohongan atau ketidakjujuran !
yang kadang membuat para pelakunya terjebak dan terperangkap dalam kesalahan yang sama untuk menutupi kesalahan berikutnya .
sulit memang,, untuk menetaskan harapan-harapan yang menjunjung langit ditengah krisis cara pandang sesorang terhadap patokan umum .
tapi, yakin deh !
suatu saat, mereka yang menjunjung tinggi kejujuran dalam setiap olahan gerak indra maupun logika nya akan menjadi seseorang yang berbeda .
mereka akan jauh mengerti dan berbobot pola pikirnya dalam memahami, menilik dan mencerna segala hal yang bekenaan dengan kehidupannya pada hari ini, esok dan selanjutnya !
selamat datang dunia nyata .
selamat datang era manipulasi .
mari menjadi KUAT !
untuk meretas setiap keberhasilan, dengan JERIH payah dan cinta kasih tuhan terhadap mereka yang ada dijalanyaa
p.a.s.t.i b.i.s.a
keren pri.
speechless.
jujur itu mahal ya ?