Ia adalah salah seorang manusia besar dari abad yang lalu. Sosok yang melegenda ini mungkin adalah dokter paling terkenal, sekaligus yang paling tidak terkenal sebagai seorang dokter.

Ernesto
Ernesto dilahirkan di Rosario, Argentina pada 14 Juni 1928. Ia dibesarkan dalam keluarga yang Kiri, yang pada gilirannya ikut membentuk pandangannya terhadap Sosialisme. Alih-alih menderita karena penyakit asma akut yang diidapnya, Ernesto tumbuh aktif dan menggemari olahraga, terutama berenang, sepakbola, dan golf. Sastra juga berperan penting dalam perkembangan hidupnya, ditunjukkan oleh kegemaran Ernesto pada puisi-puisi Pablo Neruda, John Keats, hingga Walt Whitman. Keluarga Ernesto berkultur intelektual dan gemar membaca, mengakrabkannya pada pemikiran Karl Marx, Franz Kafka, Vladimir Lenin, dan Jean-Paul Sartre sejak remaja.
Pada tahun 1948, Ernesto menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Buenos Aires. Di tengah studinya, pada tahun 1961, ia mengambil cuti setahun untuk melakukan perjalanan melintasi Amerika Latin dengan sepeda motor bersama sahabatnya, Alberto Granado. Tujuan mereka adalah menjadi sukarelawan di sebuah penampungan penderita kusta di Peru. Namun, perjalanan inilah yang menandai awal garis kehidupan Ernesto. Jurnal perjalanannya, diterbitkan sebagai The Motorcycle Diaries, mencatat kesaksian Ernesto atas kemiskinan dan kesenjangan sosial di penjuru Amerika Selatan sebagai korban dari konglomerasi kapitalisme yang diwakili oleh negara-negara maju. Hati Ernesto tergugah; wawasan Marxist-nya mencetuskan revolusi bersenjata sebagai solusi ketidakadilan ini. Di penghujung perjalanan, ia berkesimpulan bahwa Amerika Latin tidaklah terdiri atas negara-negara yang terpisah, melainkan suatu entitas bersama yang utuh. Hal ini amat berpengaruh menjadi jiwa perjuangannya kelak.

Ernesto menyelesaikan pendidikan dokternya pada tahun 1953. Sekali lagi ia mengelilingi Amerika Latin, kali ini sebagai seorang dokter. Ia mengunjungi Bolivia, Peru, Ekuador, Panama, Kosta Rika, Nikaragua, Honduras, dan El Salvador. Di Guatemala ia akhirnya menetap. Guatemala kala itu dipimpin oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang terpilih secara demokratis. Arbenz dengan berani melakukan reformasi agraria untuk mengakhiri sistem latifundia (tanam paksa untuk diberikan hasilnya pada militer) yang menyengsarakan rakyat. Lewat kudeta yang disokong CIA, Ernesto menyaksikan bagaimana Arbenz berhasil digulingkan. Peristiwa ini mengokohkan anggapan Ernesto kepada Amerika Serikat sebagai kekuasaan imperialis yang akan selalu menentang dan menghancurkan pemerintahan mana pun yang berkeinginan memperbaiki ketimpangan sosial-ekonomi negaranya.
Ernesto kemudian berpindah ke Meksiko pada tahun 1954. Ia kemudian dikenalkan kepada Raul Castro yang kemudian memperkenalkannya pada Fidel Castro, pemimpin revolusi yang tengah berupaya menggulingkan rezim diktator Fulgencio Batista di Kuba. Setelah percakapan panjang semalam suntuk, Ernesto menemukan apa yang ia cari pada gerakan Castro dan pada saat fajar menjelang ia pun resmi bergabung.
Pada awalnya, Ernesto hanya berniat berperan sebagai anggota medis di medan pertempuran. Ia ikut serta dalam pelatihan militer Gerakan dan sempat memperoleh gelar “Gerilyawan Terbaik”. Pada 25 November 1956, Castro memulai revolusinya dengan melakukan penyerangan pertama ke Kuba. Penyerangan ini berakhir buruk; mereka langsung disambut disambut kekuatan militer Batista. Dari 82 orang, hanya tersisa 22 orang yang bertahan hidup. Dalam penyerbuan inilah Ernesto mengalami transformasi penting; pada suatu titik, ia memutuskan meletakkan peralatan medisnya sebagai dokter dan memilih ikut mengangkat senjata untuk bertahan hidup. Ia memilih menjadi seorang pejuang.
Castro dan pasukannya mundur ke dalam lebatnya hutan. Dunia bertanya-tanya mengenai keberadaan mereka hingga Castro akhirnya muncul dalam sebuah wawancara surat kabar. Ernesto kini telah ditunjuk mengomandani sekelompok pasukan. Ia membentuk disiplin yang lebih keras pada pasukannya; desertir dianggap pengkhianat dan diburu hingga ajalnya. Pun begitu, ia menyeimbangkan kekerasan wataknya dengan sering mengenalkan karya sastra pada bawahannya.
Ernesto membuat berbagai strategi penting dan pasukannya menempati peran signifikan dalam keberhasilan gerakan Castro. Bersama pasukannya, ia menghentikan usaha pasukan Batista berkekuatan 1500 orang yang berusaha menyudutkan kekuatan Castro. Dalam Pertempuran Santa Ana yang menentukan, Ernesto berhasil mengungguli pasukan Batista yang jumlahnya sepuluh kali lipat. Mengetahui jenderal-jenderalnya mengupayakan kesepakatan damai dengan para pemberontak, Batista akhirnya melarikan diri ke Republik Dominika pada 1 Januari 1959.
Pemerintahan revolusi didirikan di Kuba, dan Ernesto memperoleh kewarganegaraan Kuba atas kontribusinya. Ia kemudian ditunjuk sebagai Kepala Departemen Reformasi Agraria sekaligus Presiden National Bank of Cuba, melepaskan posisi kemiliterannya. Ia menginginkan ekonomi Kuba ke arah diversifikasi, menganggap kapitalisme sebagai “pertarungan antar serigala” di mana “yang satu hanya bisa menang dengan pengurbanan yang lain”. Ia pula yang mengarsiteki hubungan Kuba-Soviet. Ernesto kerap dipercaya menjadi delegasi Kuba dalam hubungan internasionalnya. Ia bahkan menjadi Ketua Delegasi Kuba pada Sidang Umum PBB tahun 1964.
Pada satu titik, Ernesto menghilang dari penampilan publik. Ditekan oleh berbagai spekulasi, akhirnya pada bulan Oktober 1965 Castro mengungkapkan sebuah surat yang ditulis Ernesto. Dalam suratnya, Ernesto menegaskan kembali kesetiaannya pada Revolusi Kuba, kemudian menyatakan hasratnya meninggalkan Kuba untuk berjuang bersama para revolusioner lain di luar sana. Ia meninggalkan kenyamanan posisinya di Kuba untuk melanjutkan hidup sebagai seorang revolusioner.
Kelak diketahui ia telah terlibat membantu upaya gerilyawan dalam krisis di Kongo. Apa mau dikata, revolusi yang ia bantu itu gagal. Ia pun meninggalkan Kongo sebagai salah satu sejarah kegagalannya.
Dalam pidatonya pada Hari Buruh Internasional tahun 1967, Menteri Pertahanan Kuba, Mayor Juan Almeida, mengumumkan bahwa Ernesto tengah “membantu sebuah revolusi di salah satu negara Amerika Latin”. Negara itu kemudian diketahui sebagai Bolivia, di mana Ernesto membantu membentuk pasukan gerilya di sebuah kamp pelatihan. Jejak Ernesto tercium Pemerintah Bolivia. Pasukannya di Bolivia akhirnya berhasil ditumpas oleh Pemerintah, yang di luar perhitungan Ernesto dibantu oleh AS.
Pada bulan Oktober 1967, Pasukan Khusus Bolivia mengepung persembunyian Ernesto dan berhasil melukai serta menyanderanya. Ia ditawan dan diinterogasi di sebuah gedung sekolah di desa La Higuera. Kepada Julia Cortez, guru di sekolah itu, Ernesto sempat mengeluhkan kondisi gedung yang “tidak pedagogis” untuk belajar sementara “para petinggi mengendarai mobil Mercedes” dan menyatakan “itulah yang sedang kami lawan!”.
Pagi hari 9 Oktober 1967, Presiden Bolivia Rene Barrientos memerintahkan Ernesto dihukum mati. Agar terlihat seolah ia tewas dalam pertempuran sesuai berita versi pemerintah, sang algojo tembak, Mario Teran, diperintahkan menembak sedemikian rupa. Sebelum eksekusi dijalankan, Ernesto ditanyai apakah ia sedang membayangkan dirinya tak mungkin mati. Ernesto menjawab, “Tidak. Saya sedang memikirkan revolusi yang tidak akan pernah mati.”. Ia kemudian melanjutkan, “Saya tahu kamu datang untuk membunuh saya. Tembak saja, pengecut! Toh kamu hanya akan membunuh seorang manusia!”. Mario Teran sempat ragu, kemudian melepaskan tembakan. Ernesto tewas pada pukul 13.10 oleh sembilan luka tembak di sekujur badannya.
Foto jenazah Ernesto ditampilkan media seluruh dunia, simbol kemenangan pemerintah Bolivia. Tangan Ernesto diamputasi untuk kemudian dicocokkan sidik jarinya dengan data di Argentina. Pada 15 Oktober 1967, Castro mengumumkan kematian Ernesto dan tiga hari berkabung nasional. Jenazah Ernesto tidak diketahui keberadaannya hingga pada tahun 1997 ditemukan dalam sebuah kuburan massal. Ia dimakamkan dengan penuh penghormatan di Santa Ana, lokasinya dulu mengantarkan terwujudnya Pemerintahan Revolusi Kuba.
Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Perancis itu, mengungkapkan kekagumannya pada Ernesto, menjulukinya “manusia paripurna di zaman kita”. Yang saya kagumi dari dirinya adalah semangatnya melanjutkan perjuangan mewujudkan idealisme uang ia miliki, yang tidak berhenti pada posisi tinggi dan terhormat semata. Sampai akhir hayatnya. Pandangan revolusionernya mengenai entitas kesatuan Amerika Latin serta penolakannya atas kapitalisme negara maju masih terus hidup dan bisa kita lihat dalam semangat pemerintahan negara-negara Amerika Selatan semacam Venezuela dan Bolivia saat ini.
Namun, sejalan dengan kekalahan ideologi Komunisme di penghujung abad ke-20, jejak-jejak Ernesto kini menyisakan ironi terbesar. Sosoknya justru menjadi konsumsi masyarakat postmodern, menjadi secuil gambar yang diperjualbelikan dalam sistem kapitalisme yang ia tentang seumur hidup. Bagaimana dirinya menjadi sangat terkenal, bahkan di Indonesia, melalui gambar grafis stensilan di kaos atau stiker, tetapi bukan semangat atau sejarah perjuangannya. Ia sekedar menjadi simbol counter-culture yang kehilangan esensi dan perlahan-lahan justru menjadi mainstream culture itu sendiri.

Perkenalkan, Dokter Ernesto Guevara. Lebih dikenal sebagai Che Guevara.
(sumber data dan gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/Che_Guevara)
haha. keren pri. aku baru tau ternyata che itu dulunya dokter. GILE, keren abis..
*ini adalah fitur baru WordPress yang memudahkan saya menjawab komentar Anda. terima kasih WordPress!
sama den, saya juga baru tau baru-baru ini..
ehm ..
menarik,,
daftar orang hebat di kamus urang nambah ..nuhun
pri, ini karanganmu? fantastis. berbobot. ga kya gw klo nulis. hehe
betul akhi, terlepas dari kebenaran ideologi yang diperjuangkannya, sosokseorang revolusioner, seorang kamerad (dalam istilah gerakan kiri), atau seorang ikhwah (dalam gerakan dakwah) yang menjual dirinya untuk suatu fikrah (Ideologi) selalu layak untuk dikenang dalam sejarah..
Ada sebuah ungkapan dari Sayyid Quthb, asyyahid (tolong kamu cari profilnya ya..):
siapa yang hidup untuk dirinya sendiri ia mati bahkan sebelum kematiannya
dan siapa yang hidup untuk sebuah fikrah, ia terus hidup bahkan setelah kematainnya hingga berakhirnya sejarah kehidupan manusia
lalu yang memberi kita pertanyaan mendalam, jika ia mau mengorbankan sedemikian rupa untuk apa yang ia yakini. sejauh manakah pengorbaban untuk Kebenaran yang kita yakini ini telah kita lakukan?
Semoga CHE menginspirasi untk mewujudkan perubahan dan cita yang kita harapkan
itu dia poin tulisan saya kali ini.
terima kasih sudah berkunjung, Kang!
Dan terjebaklah mereka berdua di dalam Blitzmegaplex selama 2 jam penuh penderitaan, apalagi diawali dengan iklan GERINDRA di bioskop
Sabar ya Pri!
Jadi, kapan nih nonton CHE betulan? urg ikut dong
Dulu urg punya stiker CHE, nyaris ditempel di binder, latah
tolong jangan out of the topic ya..
sesegera mungkin saya cari DVD-nya, cari waktu aja…
Hebat
hha. revolusionaris emang kebanyakan gak dikenal dari jati diri aslinya, tetapi dari apa yang telah diberikan bagi kaumnya. rada ngebalikin fakta mengenai apatisme revolusionaris yang katanya orang-orang idealis itu gak punya sense untuk menjadi manusia biasa yang banyak orang bilang juga penting untuk hidup.