Burung Kecil

Posted on Oktober 31, 2010

0


Burung Kecil

Rumah mereka tidaklah megah, tetapi nyaman dan rindang, jauh dari kebisingan kendaraan bermotor. Di halaman yang dilapisi rumput, tumbuh pohon-pohon mangga, ketapang, sukun, dan matoa. Saat ini rumah tersebut sedang sepi. Namun, keheningan pun berakhir dengan kedatangan ayah dan anaknya.

Mereka berjalan dari pasar sambil menenteng sebuah sangkar burung kecil. Hari Minggu pagi selalu menjadi waktu yang menyenangkan buat si Anak. Selalu ada hal baru yang mengasyikkan untuk dilakukan. Kali ini, Ayah membelikannya seekor burung kecil berwarna kuning cerah. Burung kecil itu sesekali bercericit halus, sungguh menggemaskan.

Ayah dan si Anak kini telah sampai ke pekarangan rumah. Di bawah pohon mangga, Ayah membuka pintu sangkar, merogohkan tangan ke dalam, lalu menyerahkan si burung kecil ke tangan si Anak. Tangan kecil menggenggam burung kecil.

“Lepaskan,” ujar Ayah.

Dengan perlahan, si Anak membuka genggamannya. Burung kecil itu bergegas mengepakkan sayap, awalnya terbang sedikit canggung, namun perlahan semakin tinggi, berputar mengitari pepohonan. Cericitnya terdengar ceria, disahuti rekan-rekannya. Sudah begitu lama sayapnya pegal harus menekuk di dalam sangkar yang kecil, kini kebebasan!

Burung kecil itu hinggap di sebuah rumah burung yang tadi pagi mereka pasang di atas sebatang pohon. Si Anak sudah mengisi tempat air dan tempat biji-bijian untuk dinikmati. Kini suasana pekarangan rumah terasa semakin tenteram dengan kicauan burung-burung.

“Mencintai tak harus memiliki,” kata Ayah, “Kasihan sekali jika kita harus selalu mengurung burung kecil itu karena ingin menikmati suara dan wujudnya… Dengan begini, burung kecil itu bebas datang kapan pun ia mau, asal kita siapkan air dan makanan. Dan sebagai balasannya, kita dapat mengamati tingkahnya serta mendengarkan suaranya.”

Banyak sebenarnya yang ingin diceritakan Ayah pada si Anak. Bahwa mencintai bukanlah menuntut agar ia selalu ada, sebagaimana mengurung si burung kecil. Namun, mencintai adalah timbal-balik saling menghargai  keinginan satu sama lain, sekaligus saling menguntungkan. Mencintai berarti mempedulikan, seperti mengisi air dan makanan di rumah burung setiap hari. Jarak mungkin memisahkan, tetapi seperti burung kecil itu, ia selalu tahu ada tempat untuk pulang.

Ayah tahu, hal itu masih cukup rumit untuk dicerna si Anak, maka tidak ada pembicaraan lebih lanjut sementara mereka duudk di bawah naungan pohon dihembusi semilir angin. Mata si Anak membulat besar, dan ia berceloteh tanya ini-itu pada Ayah yang dengan sabar menjelaskan. Si Anak cemberut, tidak boleh memanjat pohon oleh Ayah. Sejurus kemudian parasnya berubah, lalu si Anak berlari ke dalam rumah mencari Ibu, dengan gembira bercerita bahwa Ayah berjanji membuatkannya rumah pohon minggu depan.

Matahari bersinar cerah. Burung-burung sibuk membangun sarang.

Ditandai:
Posted in: Renungan