Arsip untuk Kategori 'Film'

29
Sep
08

Menghapus Kenangan Tentang Seseorang

Seandainya Anda dapat menghapus kenangan tentang seseorang, akankah Anda menghapusnya?

Hari ini saya baru menonton “Eternal Sunshine of the Spotless Mind”. Saya merasa seakan-akan orang-orang di balik film ini sedang berbicara langsung kepada saya.

Akankah kamu bersedia menghapus kenangan bersamanya?

Akankah kamu bersedia menghapus kenangan bersamanya?

Dibintangi Jim Carrey, Kate Winslet, Elijah Wood, dan Kirsten Dunst, film produksi tahun 2004 ini memperoleh Academy Award untuk Best Screenplay dan nominasi Best Actress oleh Kate Winslet. Agak membingungkan karena alurnya tidak disajikan secara linier, melompat-lompat dari satu sequence ke sequence lain. Katanya bergenre drama komedi romantis dengan bumbu fiksi ilmiah, tapi jujur saya tidak mengerti di bagian mana lucunya. Kesan saya setelah menontonnya justru bittersweet.

Joel Barish (Carrey) baru saja berniat memperbaiki hubungannya dengan Clementine (Winslet) setelah satu pertengkaran amat hebat dan berkunjung ke tempat kerjanya untuk meminta maaf. Alangkah kaget Joel ketika Clementine merasa tidak mengenalinya dan malah sudah menjalin hubungan dengan pria lain (Wood). Keganjilan itu terjawab setelah Joel memperoleh memo dari Lacuna Inc bahwa Clementine telah menggunakan jasa mereka untuk menghapus semua kenangan tentang Joel. Clementine tidak memiliki ingatan apa-apa lagi tentang Joel dan hubungan yang pernah ada di antara mereka.

Merasa frustasi, Joel datang ke Lacuna Inc dan turut meminta memori tentang Clementine dihapus dari ingatannya. Prosedur pun dijalankan. Joel diminta mengumpulkan semua barang yang dapat diasosiasikan dengan Clementine, memetakan memori tentangnya, dan menjalani penghapusan.

Sebagian besar film adalah proses penghapusan yang terjadi di dalam kepala Joel. Kita dapat menyaksikan detil pertengkaran antara Joel dan Clementine pada malam itu. Pada awalnya kenangan yang dihapus adalah hal-hal buruk yang terjadi dalam hubungan mereka. Tapi akhirnya muncul juga kenangan-kenangan manis seperti kencan di atas Charles River yang membeku ketika keduanya berbaring di atas lapisan es dan Joel merasa amat bahagia. Pada titik itu, sosok Clementine mulai menghilang dan Joel menyadari dirinya masih ingin menyimpan gadis itu dalam kenangannya. Dimulailah kucing-kucingan antara staf Lacuna dan Joel yang berupaya menyembunyikan kenangan Clementine di kenangan lain yang tidak terpetakan sebelumnya.

Di waktu yang sama di dunia nyata, staf Lacuna Stan dan Patrick (Wood) tengah bertugas menghapus memori Joel. Mary (Dunst), resepsionis Lacuna, tanpa alasan yang jelas datang mengunjungi mereka. Setelah menerima telepon dari Clementine, Patrick meninggalkan Stan dan Mary untuk beretemu dengan gadis itu. Ironisnya, malam itu Clementine yang impulsif mengajak Patrick ke Charles River yang sedang membeku. Patrick memanfaatkan barang-barang kenangan Joel untuk menciptakan adegan rekonstruksi kencan Joel dan Clementine sebelumnya.

Sementara itu malam yang panas berlangsung antara Stan dan Mary, yang terhenti karena proses penghapusan tidak dapat dilanjutkan (Joel sedang berusaha menyimpan kenangan Clementine di masa kecilnya). Kepala Lacuna, Mierzwiak, terpaksa dipanggil untuk memecahkan masalah tersebut. Ketika Stan sedang pergi keluar, cerita menjadi semakin kompleks karena Mary mengakui cintanya pada Mierzwiak. Keduanya tengah berciuman tepat ketika istri Mierzwiak datang karena curiga. Di sini istri Mierzwiak mengungkapkan twist yang tak terduga, bahwa Mary dulu sudah pernah terlibat affair dengan Mierzwiak dan telah mengalami penghapusan memori sehingga seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara keduanya.

Singkat cerita, misi penghapusan memori Joel akhirnya beres. Pagi harinya Joel terbangun dan berangkat kerja ketika tiba-tiba ia menerima dorongan impulsif untuk pergi ke pantai Montauk, yang sebenarnya merupakan tempat pertama kali ia dan Clementine bertemu. Di pantai itu ia bertemu Clementine, namun keduanya tidak mengenali satu sama lain. Entah mengapa sesuatu menarik mereka berdua hingga akhirnya terlibat dalam percakapan dan berkenalan sekali lagi. Dan sekali lagi keduanya jatuh cinta.

Joel dan Clementine kembali mengunjungi Charles River dalam suatu kencan di malam hari, mengulangi adegan yang pernah terjadi sebelumnya. Pagi harinya Joel mengantarkan Clementine pulang sebentar ke rumah untuk meneruskan ke apartemennya ketika ia bertemu Patrick yang heran bagaimana mungkin keduanya dekat kembali setelah penghapusan memori. Clementine menerima sebuah kiriman kaset dan memutarnya di mobil Joel. Kaset itu ternyata berisi rekaman wawancaranya ketika penghapusan memori di Lacuna. Mereka berdua mendengarkan sesi ketika Clementine mengungkapkan kebosananannya pada Joel dalam hubungan mereka sebelum itu. Kaget, keduanya berpisah dalam kebingungan.

Clementine kemudian mengunjungi Joel dan menemukannya sedang mendengarkan rekaman wawancaranya sendiri. Setelah mengundurkan diri dari Lacuna, Mary ternyata telah mencuru data perusahaan dan mengirimkan rekaman-rekaman yang disimpan Lacuna pada klien-kliennya. Di tangan Joel tersisa satu benda kenangan tentang Clementine yang lupa ikut dihapus, sebuah lukisan. Hal-hal ini susul-menyusul saling membuktikan bahwa keduanya memang pernah terlibat satu hubungan di masa lalu. Walaupun keduanya tidak bisa mengingatnya, waktu membuktikan bahwa mereka masih menyimpan keinginan untuk bersama. Joel dan Clementine akhirnya memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua pada hubungan mereka.

Saya pernah berharap bisa menghapus kenangan tertentu agar bisa move on dari suatu situasi. Saya mengira tanpa pernah mengalami hal itu, tentu hidup akan menjadi lebih baik. Tapi “Eternal Sunshine of the Spotless Mind” mengajukan satu antitesis: tidak ada kenangan yang baik atau yang buruk, yang ada hanya… kenangan.

Betapa pun sakitnya, manusia tidak perlu melupakan suatu kenangan hanya untuk bisa maju. Betapa pun pahitnya, manusia perlu menyimpan kenangan itu dan memetik pelajaran darinya secara sehat. Simpanlah kenangan itu dengan utuh, sisi-sisi pahit maupun manisnya; di sanalah kita belajar memaafkan, menerima, dan berdamai dengan diri sendiri. Kegagalan dan perselisihan adalah bagian dari pertunjukan hidup. If it doesn’t meant to be, it just doesn’t meant to be. Cukup itu yang perlu kita ketahui, dan lanjutkanlah hidup!

Eternal Sunshine of the Spotless Mind. I will keep it as one of my favourite!

29
Sep
08

Joker Mengacau di Layar Lebar

Saya memborong beberapa DVD untuk menemani libur lebaran kali ini. Salah satunya adalah film Batman tebaru, The Dark Knight, yang belum sempat saya tonton di bioskop karena… sibuk. Orang-orang begitu bersemangat mempromosikan film ini, sehingga hiperbolisnya mungkin bila sampai tidak menonton film ini disejajarkan sebagai sebuah dosa.

Kebetulan sekali pada saat itu saya juga menemukan DVD film Batman (1989) besutan Tim Burton. Kedua film Batman ini sama-sama menampilkan The Joker sebagai tokoh antagonis. Dua sutradara, dua naskah, dua sense yang berbeda. Saya tertarik untuk membandingkan bagaimana Joker ditampilkan dalam kedua film ini.

Joker dalam Batman

Did you ever dance by the devil in the pale moonlight?

"Did you ever dance by the devil in the pale moonlight?"

Jujur, saya pertama kali jatuh cinta pada tokoh Joker lewat penampilan Jack Nicholson dalam Batman. Saya masih ingat menyaksikannya sewaktu kecil di Layar Emas RCTI. Satu scene yang selalu saya kenang adalah ketika Joker tampil di depan kerumunan pers mengenakan topi tinggi ala Abraham Lincoln, membawa pena bulu, bermonolog sebentar, dan tiba-tiba menusukkannya ke tenggorokan seorang pemimpin mafia Gotham. Kemudian ia berujar, “The pen is mightier than sword!” dan menertawakan lelucon sadis yang dibuatnya. Nah, ini baru benar-benar sinting.

Dalam Batman, kita mengetahui sejarah Joker sebagai seorang Jack Napier, bajingan yang turut mendukung jalannya suatu kekuasaan mafia di Gotham. Pada dasarnya Napier memang memiliki gejala kelainan jiwa, seperti ketidakstabilan emosi dan ciri lain yang cenderung histrionik. Setelah dikhianati bosnya, Napier harus berhadapan dengan polisi dan Batman di dalam sebuah pabrik kimia yang berujung pada jatuhnya Napier ke dalam salah satu tangki berisi cairan hijau menggelegak. Semua orang mengira ia telah mati, namun ternyata ia selamat, dengan harga yang mahal. Kecelakaan itu mengubah kulitnya menjadi putih pucat, rambutnya menjadi hijau, dan saraf wajahnya rusak, menyisakan senyum lebar tak wajar yang abadi. Jack Napier telah “mati”, dan kini Joker telah lahir.

Motif kriminal Joker absurd dan gila, misalnya “Aku ingin wajahku muncul di uang dolar kertas!” atau “Aku benci Batman mengambil semua publikasi dariku!” yang pada akhirnya behasil menghasilkan citra Joker sebagai psikopat gila. Modusnya pun eksentrik: selain pena bulu yang disebutkan di atas, Joker membunuh seorang mafia dengan sengatan listrik ketika berjabat tangan (that old joke!), racun Smylex dalam bedak, parfum, dan deodoran yang menyebabkan kematian dengan tanda senyum lebar ala Joker, racun yang sama dalam bentuk gas yang disebarkan saat karnaval lewat balon-balon Joker raksasa, dan kadang-kadang cara konvensional Amerika: pistol.

Karakter yang dituntut oleh naskah dan yang ditampilkan Jack Nicholson memang cenderung teatrikal, dramatis, dan penuh percaya diri. Tampak sosok Joker yang punya arogansi, seperti bintang panggung dalam skenario yang ia mainkan sendiri. Satu line yang paling dikenang tentu ucapan Joker sebelum membunuh sasarannya: “Did you ever dance by the devil in the pale moonlight?”, yang ia ucapkan hanya karena suka mendengar rimanya. Gila!

Joker dalam The Dark Knight

I believe what doesnt kill you make you... stranger!

"I believe what doesn't kill you make you... stranger!"

Bandingkan dengan Joker di The Dark Knight. Tumben-tumbennya Joker bersedia berbagi sedikit filosofi yang mendasari tindakan kriminalnya. Ia percaya sisi terburuk dari setiap manusia dan ingin menunjukkannya pada dunia lewat dua skenario: kapal feri dan Two-Face. Di film ini, kita bisa melihat kepiawaian Joker menyusun strategi mewujudkan chaos di kota Gotham. Joker meninggalkan trademark racun Joker-nya dan lebih banyak bermain dengan bahan-bahan eksplosif yang menghasilkan adegan-adegan action mengesankan.

Skenario memang menuntut Joker langsung beraksi tanpa menjelaskan sejarah hidupnya terlebih dahulu. Hal ini diakui Christoper Nolan untuk memfokuskan film pada arc Harvey Dent a.k.a. Two-Face. Di lain sisi Joker sempat memberikan sedikit cuplikan tentang masa lalunya, itu pun melalui dua cerita yang bertentangan di kesempatan berbeda sehingga tidak dapat dipercaya.

Banyak orang begitu memuji akting Heath Ledger sebagai Joker. Saya pun memerhatikan betapa ia telah tenggelam ke dalam tokoh Joker, yang pada akhirnya malah menjadi “biasa” menurut saya, karena terlalu kuatnya persona Joker. Satu hal yang saya catat justru intrepretasi Ledger yang cukup unik: tidak menampilkan Joker sebagai seseorang yang over-confident dan dramatis, lebih miskin humor, dengan gestur yang cenderung terkesan nerd. Make-up Joker juga menampilkan sesuatu yang baru, yaitu eyeshadow hitam yang mengelilingi mata dan senyum lebar yang alih-alih permanen malah hanya olesan lipstik. Hasilnya mengesankan, wajah Joker menjadi lebih kejam.

Kedua Joker dalam kedua film memang berbeda. Secara subyektif saya lebih suka yang diperankan Jack Nicholson karena lebih lekat dengan tokoh Joker dalam bayangan saya. Tapi tentu saja saya mengagumi totalitas Heath Ledger, bahkan konon skenario The Dark Knight sempat disesuaikan terlebih dahulu dengan intrepretasi Ledger terhadap Joker. Akhirnya kita bisa melihat sisi lain Joker yang lebih gelap. Angkat topi untuk almarhum!




ryansight

Saya menikmati waktu sendiri, ketika saya bebas menjadi diri saya seutuhnya dan melakukan apa yang benar-benar saya suka. Merenung, berandai-andai, membaca sesuatu yang inspiratif, menikmati musik psikedelik atau jazz, menonton film yang membelalakkan mata, dan menulis. Ya, dulu saya sempat punya keinginan muluk-muluk ingin menginspirasi banyak orang. Tapi menulis memberi saya lebih dari itu: sebuah sesi terapi yang bisa membuat saya tetap "waras" di tengah kerasnya tabrakan nilai-nilai hidup. Pernah dengar "dialektika"? Tesis, antitesis, sintesis. Mari bertukar pikiran.
ryansight menghitung hari menuju UN 2009 dan SNMPTN 2009 serta mengucapkan selamat bertarung bagi rekan-rekan seperjuangan.

kita berbicara tentang apa saja

Muhammad Aprianto Ramadhan's Facebook profile

berani menggali ide baru?

 

November 2009
S S R K J S M
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

kutipan

"Hidup tanpa harta adalah kesengsaraan. Hidup tanpa ilmu adalah kegelapan. Hidup tanpa cinta adalah penderitaan. Namun bencana paling buruk adalah hidup tanpa pemaknaan, karena sebenarnya Anda tidak benar-benar hidup..." - ryansight