Arsip untuk Kategori 'Opini'

29
Sep
08

Writer’s Block

Seorang teman menanyakan mengapa ryansight telah vakum untuk sekian lama. Ya, hal itu bukan tak pernah masuk dalam pikiran saya. Saya merasa iri melihat blog-blog lain bisa terunggah dengan konsisten tiap beberapa jangka waktu tertentu. Saya pun merasa kehilangan sebuah tempat untuk bereksistensi.

Ada beberapa faktor. Kegiatan yang demikian sibuk(?) mengesampingkan sementara kebutuhan untuk merenung dan mengolah hasilnya ke dalam tulisan. Ditambah lagi dengan kesulitan akses internet dan ya, bahkan akses dengan komputer. Beberapa waktu ini saya berpisah cukup lama dengan Microsoft Word dan kawan-kawan. Tapi harus saya akui, itu bukan faktor utamanya.

Beberapa waktu yang lalu, misalnya, saya sempat mengunjungi warnet. Membuka wordpress. Membuka halaman posting baru. Menulis judul. Membuat satu paragraf pertama. Berhenti. Memandangi hasilnya. Dan pindah halaman sejenak ke situs lain. Kembali ke wordpress. Tidak bisa melanjutkan. Macet. Akhirnya log out dari wordpress.

Ya, rupanya saya terbentur pada writer’s block.

Writer’s block saya tejemahkan sebagai suatu keadaan ketika seorang penulis tidak bisa melanjutkan atau bahkan memulai suatu karya. Rasanya semua penulis pernah merasakan hal ini. Harper Lee hanya bisa menelurkan satu karya Pulitzer Prize, “To Kill A Mockingbird”, dan tidak pernah menyelesaikan novel keduanya yang dibiarkan menggantung begitu saja. Itu contoh ekstremnya.

Yang saya alami, block ini disebabkan oleh perfeksionisme saya. Sungguh berat rasanya setelah tahu tulisan ini dibaca oleh segmen yang luas, dengan intrepretasi yang berbeda-beda. Dan judgement yang bervariasi pula. Saya harus menulis sesuatu yang berbobot. Untuk mulai menulis sesuatu, saya cenderung untuk serba menunggu-nunggu: mood yang tepat, tema yang tepat, pesan yang tepat, diksi yang tepat, judul yang tepat, waktu menulis yang tepat. Belum apa-apa saya sudah terbentur pada tembok tinggi yang tampaknya sulit dipanjat.

Kemarin dulu saya membaca lagi sebuah kumpulan esai Bertrand Russel koleksi perpustakaan sekolah yang sudah saya anggap hak milik. Pengantar buku itu menyebutkan bahwa Bertrand Russel membiasakan dirinya menulis minimal 3000 kata per hari! Hasilnya adalah esai-esai menakjubkan dan lebih dari 40 buku sepanjang hidupnya dengan bahasan dari filsafat sampai matematika. Bayangkan itu, 3000 kata! Bahkan sampai akhir kalimat ini saya baru menulis 338 kata!

Akhirnya saya tiba pada kesimpulan: konsistensi hanya bisa diwujudkan dengan… konsistensi. Maksudnya, jika saya menginginkan blog ini bisa terunggah secara konsisten, maka mulailah menulis dan cobalah lakukan itu dengan paksaan-diri. Dan buatlah komitmen dengan diri sendiri kalau ini bisa dilakukan.

Tahukah Anda, pada titik ini saya telah berhasil, paling tidak sekali, mengalahkan writer’s block. Ironisnya, ia saya kalahkan justru dengan membahas dirinya sendiri. Dengan posting ini.

Hidup memang tentang menabrakkan diri pada tembok-tembok tinggi yang kita ciptakan sendiri, dan kita hanya bisa maju jika berani mencoba seberapa tinggi kita bisa memanjat untuk melampauinya.

28
Jun
08

Bellum Omnium Contra Omnes*

(*: Lat: perang semua melawan semua)

Saya tidak tahan untuk mengkoreksi demikian kelirunya media massa kita saat ini dalam menggunakan istilah.

Drama tragedi kerusuhan demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR dikomentari sebagai aksi “anarkistis”. Di segi kebahasaan, ini sudah merupakan pleonasme; penggunaan secara berlebih-lebihan. Sama kelirunya dengan “pesimistis” dan “optimistis”. Cukuplah “anarkis” untuk menggambarkan kondisi yang bersifat anarki, pun demikian “pesimis” dan “optimis”.

Di segi keilmuan, komentar “anarkis” tidakkah terlalu naif? Anarkisme dijelaskan sebagai ideologi yang menentang segala bentuk pemerintahan legal dan melakukan berbagai cara untuk meruntuhkannya untuk menciptakan kondisi masyarakat tanpa pemerintahan. Sekarang bila kita tinjau, apakah aksi tersebut dapat digolongkan sebagai upaya menjatuhkan pemerintahan yang ada? Saya kira tidak. Sudah sejak lama tindakan kekerasan diberi julukan “anarkis”. Sayang media telah turut menyebarluaskan informasi yang salah mengenai anarkisme kepada publik kita.

Bulan ini rasanya kita makin kebal terhadap berita demonstrasi yang berujung kerusuhan di televisi. Kenaikan BBM memicu kerusuhan UNAS yang berujung pada gugurnya putra bangsa Alm. Maftuh Fauzi. Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan berkeyakinan(AKKBB) bentrok di Monas gara-gara silang pendapat mengenai Ahmadiyah. Terakhir kerusuhan di depan gedung DPR/MPR yang diklimaksi dengan pembakaran sebuah Avanza berplat merah.

Saya tidak berniat mengintervensi pandangan politik orang-orang itu. Toh saya juga punya pandangan sendiri dan tidak rela diintervensi.

Saya pun merasakan dampak kenaikan BBM. Selama satu hari boleh dibilang saya shock, karena sebelumnya tidak mengikuti berita dan suatu malam pemerintah (tiba-tiba) menaikkan harga BBM. Sebagai bagian umat, saya pun memahami paham Ahmadiyah memang melenceng dari akidah.

Persoalannya adalah cara saudara-saudara kita menyampaikan pandangan politik mereka pada Pemerintah (pada merekakah? Atau pada siapa?). Turun ke jalan beramai-ramai, aksi long march damai, orasi-orasi. Sampai di sana masih wajar. Namun ada kalanya pelan-pelan muncul “rasa terlindungi” dalam kelompok, “rasa aman”. Disambut oleh provokasi entah-siapa. Amarah terbakar. Demonstrasi pun berubah menjadi huru-hara.

Perhatikanlah huru-hara tersebut. Demikianlah mungkin laboratorium lapangan tempat kita bisa mengobservasi bagaimana Thomas Hobbes pernah memberikan julukan Homo homini lupus- manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Tidak ada lagi pandangan politik yang diperjuangkan, ini semua bukan tentang itu. Ini tentang adrenalin yang memuncak, batu-batu yang berdesing di atas kepala kita, ledakan bom-bom molotov, dan semburan gas air mata. Ditimpuk atau menimpuk. Dipukul atau memukul. Siapa menyerang berarti musuh. Tidak berani, maka lari, lari selamatkan dirimu. Sempurnalah kondisi bellum omnes contra omnium- perang semua melawan semua.

Ada, saya yakin, cara-cara yang lebih bermartabat dan lebih konsisten dalam memperjuangkan pandangan politik. Saya khawatir kita terjebak dalam euforia sepuluh tahun yang lalu, ketika demonstrasi besar-besaran berhasil menggulingkan rezim yang sudah 32 tahun bercokol. Era reformasi ditandai dengan meningkatnya secara tajam frekuensi unjuk rasa. Saya tidak mengatakan itu salah: itu sah dan dijamin haknya secara hukum. Yang saya coba utarakan adalah mau dibawa ke mana kedewasaan politik jika aspirasi hanya bisa disampaikan lewat demonstrasi- apalagi yang berujung kerusuhan?

Saat ini saya menggugat peran wakil-wakil rakyat di badan legislatif.. Mengapa sampai saat ini partai politik dan kadernya yang duduk di kursi Dewan belum menunjukkan kegiatan penghimpunan aspirasi dari rakyat yang diwakilinya, semisal membuka kantor pelayanan aspirasi, nomor hotline, atau katakanlah sekedar e-mail yang dirilis kepada konstituennya? Mengapa seolah-olah kami hanya didengar jika kami berdemonstrasi (Atau saya salah? Pernahkah Anda sekalian mendengar kami berdemonstrasi?)?

Saya, kami membutuhkan jalur yang lebih pragmatis untuk menyampaikan pandangan. Dengan begitu kami bisa memperjuangkan pandangan politik secara konsisten, dan jawabannya bukan kekerasan melainkan dialog. Sebab kami juga manusia.

(Terima kasih kepada Tb Andhika Nugraha atas koreksi judul di atas.)

04
Jan
08

Internet dan Jalan Menuju Dystopia

Baru beberapa hari yang lalu, ketika menemani seorang sahabat hunting buku di Palasari, saya berjumpa dengan novel berjudul 1984 karya George Orwell, dalam versi Bahasa Indonesia terbitan Bentang Pustaka. Sudah sejak lama saya penasaran membaca novel ini setelah pertama kali dipromosikan oleh seorang teman (versi Bahasa Inggrisnya). Menurut teman saya itu, cerita novel ini berkisar pada suasana pemerintahan yang diktator, di mana terdapat Polisi Pikiran yang mengawasi gelombang-gelombang subversif terhadap pemerintah sejak dalam pikiran. Oke, terdengar keren, dan saya pun membeli buku ini.

1984

Orwell dalam 1984 benar-benar terasa memahitkan kehidupan di bawah pemerintahan yang totaliter. Negara tempat kisah ini berlangsung digambarkan sebuah Dystopia, lawan dari istilah Utopia (yang kalau diartikan secara bebas adalah tempat idaman manusia). Negara itu berada dalam perang dunia abadi; adanya kesenjangan sosial dan ekonomi yang gila-gilaan; pemerintahan bergantung pada satu sosok kharismatik; manipulasi sejarah oleh pemerintah; pengawasan amat-sangat ketat bagi seluruh aktivitas penduduk oleh alat bernama teleskrin (yang mirip sekali dengan televisi, bedanya teleskrin fungsinya dua arah: apa yang kita lakukan di depan teleskrin akan selalu dipantau, dan teleskrin ini tersebar di mana-mana).

Secara umum, novel yang ditulis tahun 1949 ini memang punya feel futuristik. Konon, banyak orang yang terpengaruh oleh 1984 dan menanti-nanti tahun 1984 dengan penuh kecemasan. Sayang sekali saya membenci ending-nya yang benar-benar tidak sesuai harapan saya.

Baik, cerita tentang novel itu hanya saya sajikan sekilas saja karena memang bukan topik yang akan kita bicarakan. Tapi tentu cuplikan di atas masih ada hubungannya.

Bayangkan semua apa yang kita lakukan diawasi. Bayangkan segala yang kita pikirkan bisa dipantau. Bayangkan apa-apa emosi yang kita rasakan dapat dilacak. Bayangkan semuanya kita kombinasikan dengan Pemerintah/Kekuasaan yang merangseki wilayah-wilayah individu tadi. Kita mendapatkan sebuah Dystopia.

Bukan saya namanya jika membayangkan tanpa mencoba mengetahui: bisakah itu terjadi?

Yang pertama saya perhitungkan adalah media seperti apakah yang bisa digunakan untuk melacak perbuatan, pikiran, dan perasaan manusia?

Dalam novel 1984, alat tersebut adalah teleskrin. Bisa jadi media itu televisi, namanya saja sudah mirip. Tapi karena pernah menulis karya ilmiah sederhana tentang TV, saya mengetahui mekanisme TV saat ini belum memungkinkan kemampuan dua arah. Selain itu, televisi juga aman dari campur tangan pemerintah. Buktinya tayangan-tayangan horor murahan, sinetron remaja, infotainment, kuis SMS, dan sampah-sampah lainnya saat ini masih subur dan tidak tersentuh (paling tidak, oleh republik kita). Jadi, saya menyimpulkan TV mungkin dipakai sebagai serangan lapis pertama, untuk fungsi pembodohan massal saja.

Mungkin media ini media lain. Mungkin media ini belum tersentuh oleh imajinasi Orwell di tahun 1949. Saya mengira-ngira, mungkinkah ia adalah internet?

Ya, saya rasa mungkin sekali. Sudah beberapa tahun belakangan ini kita tersapu dalam gelombang digitalisasi hampir semua aspek kehidupan. Saya membuat alamat e-mail dan sempat mencantumkan beberapa data pribadi, dan setidaknya IP address saya bisa dilacak. Saya membuat Friendster dan memasukkan data-data penting, seperti di mana saya bersekolah, siapa teman-teman saya, bagaimana kepribadian saya. Bank memberikan layanan internet banking. Dan saya membuat blog ini. Saya mencurahkan apa yang saya pikirkan ke dalam blog ini, dan semuanya bisa dilacak pakai Google jika tahu kata kunci yang tepat.

Rasanya semuanya menjadi tidak main-main lagi. Satu memori tiba-tiba muncul. Saya pernah membaca berita tentang Yahoo! China yang memberikan informasi tentang identitas seorang blogger (memakai e-mail Yahoo!). Blogger itu rupanya telah melakukan posting-posting subversif terhadap pemerintahnya (RRC). Dan blogger itu sukses dibawa ke meja peradilan. Oke…….

(catatan: mohon cek silang kebenaran adanya berita seperti itu, saya hanya mengandalkan ingatan saja.)

Jadi akhirnya saya menyimpulkan media itu telah ada pada internet. Faktor Dystopia yang perlu melengkapinya adalah pemerintahan totaliter saja.

Khayalan di atas tetaplah hanya khayalan, tapi saya percaya bahwa imajinasi tersebut mungkin terjadi (penyebabnya sudah saya utarakan di atas).

Saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Bagi saya internet adalah media kebebasan, bukan media pembredelan. Saya menulis di internet dengan semangat bahwa saya bebas menulis apa yang saya pikirkan, gratis (dan saya yakin teman-teman blogger yang lain pun punya semangat yang sama).

Yang harus kita lakukan bersama adalah mencegah kemungkinan adanya pemerintahan yang totaliter, yang seenaknya merangseki wilayah individu secara inkonstitusional. Pemerintah harus tetap tidak-tak-terbatas, konstitusi harus eksis dan berjalan, hukum ada dan menaungi semua aspek.

Bagaimanapun, menurut saya itu terjadi (seperti kata Bang Napi), bukan hanya karena ada niat pelakunya tapi juga karena ada kesempatan. Selama kita masih sadar dan menghormati hak asasi manusia, selama itulah kita bisa menghalangi kesempatan totaliterianisme di atas muka bumi Indonesia. Setuju?

04
Jan
08

Saya Percaya Kebetulan, Tapi Tidak Ramalan

Kebetulan di akhir tahun 2007 ini saya terkena flu yang parah, memaksa saya untuk hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur. Kebetulan lagi, kamar saya tidak sepenuhnya kedap suara. Dan kebetulan seseorang di ruang keluarga tengah menonton acara televisi. Benar-benar kebetulan, acara TV tersebut adalah acara infotainment, dan kebetulan host tersebut membuka sebuah topik seperti ini, “Seperti tahun-tahun sebelumnya, mari kita simak bagaimana ramalan Mama Laurent dan Ki Joko Bodo mengenai tahun 2008 nanti”.

Mama Laurent, bagaimana 2008?

Sampai di sana saya tidak tahan lagi dengan kebetulan yang beruntun tadi. Bukan soal kebetulannya, melainkan tentang ramalan tahun 2008 dari Mama Laurent, Ki Joko Bodo, Doraemon, Suzanna, atau siapapun.

(Ngomong-ngomong, saya percaya bahwa kebetulan memiliki maknanya sendiri. Kebetulan-kebetulan di atas yang membawa saya menulis posting ini. :-) )

Mengapa acara infotainment (seperti yang diakuinya sendiri) merasa perlu menampilkan “prediksi-prediksi” seperti itu setiap tahunnya?

Bukan hanya di televisi, ramal-meramal juga amat marak di majalah-majalah, biasanya diperuntukkan bagi kaum Hawa. Tiap minggu malah. Jika zodiak Anda Taurus, maka minggu ini Anda harus berhemat. Jika bintang Anda Gemini, komunikasi Anda dan pasangan harus lebih terbuka. (Bukankah nasehat-nasehat seperti itu benar-benar umum dan bisa saja diberikan kepada siapa saja-di mana saja-kapan saja? Anehnya, masih banyak saja yang percaya…).

Bukankah hal ini menarik, apa yang sebenarnya kita cari dari ramalan?

Baiklah, saya mencoba menghubungkannya dengan Teori Abraham Maslow tentang aktualisasi diri. Menurut Maslow, manusia punya beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai aktualisasi diri. Yang paling mendasar adalah kebutuhan fisiologis (makan, minum, tidur, ekskresi, seks, dll), dan yang kedua adalah rasa aman. Jadi rasa aman ini rupanya amat mendasar dalam motivasi manusia.

Mari kita coba lihat pada investasi di bursa saham. Investor tentu amat jarang sekali yang asal-asalan menanamkan modal pada suatu perusahaan. Minimal ia perlu melihat portofolio perusahaan tersebut, memeriksa neraca keuangannya, mengetahui resiko bisnis di bidang tersebut, dan sebagainya. Investor butuh memiliki kepercayaan pada perusahaan tersebut, sehingga ia bisa merasa aman membeli saham sebanyak yang ia mau.

Urusan ramal-meramal ini menurut saya tidak jauh-jauh dari rasa aman. Masa depan adalah sesuatu yang selalu bernilai fifty-fifty ketika ia belum terwujud; serba belum pasti. Padahal manusia lebih merasa aman dengan yang pasti-pasti. Manusia akan merasa lebih aman jika mengetahui sedikit tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Betulkah itu?

Ada antitesis yang cukup bagus, sebuah cerita dalam komik Doraemon. Nobita dipinjamkan teropong yang bisa dipakai melihat kejadian di masa depan. Ia cukup membayangkan tindakan yang ingin dilakukannya dan teropong itu akan memperlihatkan implikasi tindakan tersebut. Nobita akhirnya memang mengetahui pilihan mana yang terbaik, tapi ia jadi terlambat untuk sarapan karena terlalu sibuk dengan teropong itu dan semua rencana hari itu pun berantakan.

Doraemon dan kawan-kawan-Wikipedia

Begitulah menurut saya, ketika kita terlalu sibuk dengan ramalan-ramalan tentang masa depan. Kita jadi lupa melakukan sesuatu untuk hari ini: sesuatu senyata bangun tidur lebih awal yang seharusnya dilakukan Nobita.

Alangkah indahnya bila masa depan tetap menjadi misteri. Saya bebas terus bermimpi tanpa batas, saya bisa menjadi siapa pun yang saya inginkan. Apakah saya bisa melakukannya jika masa depan telah saya ketahui?

Buat saya, tidak mengetahui masa depan adalah pilihan yang terbaik. Dengan tidak apa yang telah digariskan, saya harus bermain all-out untuk menciptakan masa depan yang terbaik.

Ada sebuah quotes dari teman saya, Teh Irna, yang masih terus saya ingat. Beliau berkata:

“Satu-satunya cara meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya!”

Masuk akal, dan saya setuju.

26
Des
07

Kita Harus Membangun Bahtera Nuh yang Baru! Segera!

Saya masih ingat cerita mengenai Nabi Nuh. Seorang manusia biasa yang mendapat wahyu dari Tuhan untuk membuat sebuah bahtera raksasa demi menyelamatkan kaumnya yang beriman dari mega-banjir.

Belum pernah dalam sejarah ada gerakan menyelamatkan kemanusiaan dari kemarahan alam seperti yang kita rasakan saat ini. Tapi hari ini saya tidak melihat cuma seorang Nuh; ada beribu-ribu Nuh di seluruh dunia yang tengah membangun bahtera baru bagi manusia.

Yang menjadi ancaman masih sama: mega-banjir yang dapat menenggelamkan daratan dunia. Namun kini ia datang lewat istilah populer: global warming. Pemanasan global yang dipicu oleh emisi karbon berlebihan dari aktivitas manusia modern.

Para pemimpin dunia menyempatkan waktunya untuk memikirkan efek negatif industrialisasi. Konferensi diselenggarakan. Perjanjian-perjanjian disepakati. Konsensus global kompak menyatakan: “Dunia hari ini dalam bahaya! Kita harus melakukan sesuatu!”.

Maknanya besar bagi dunia. Semua orang diajak memahami apa itu pemanasan global, efek rumah kaca, ozon, karbondioksida. Semua orang diajak memahami bahwa dirinya punya kontribusi dalam pemanasan global dan seharusnya punya andil pula dalam mengatasinya.

Terdengar indah. Ataukah hanya kedengarannya saja? Apa yang seharusnya menjadi semangat, spirit kemanusiaan, kini justru menjadi sebuah komoditas.

Yang ingin saya jadikan contoh tidak jauh-jauh dari kehidupan saya dan teman-teman. Sebuah SMA berniat mengadakan pentas seni dengan tema lingkungan hidup. Makna sadar lingkungan itu dibanalisasi ke dalam sebuah acara hedon satu malam, yang boro-boro bisa meningkatkan semangat untuk bergerak menyelamatkan dunia; tidak bisa dipungkiri, yang menyebabkan mereka datang malam itu adalah bintang tamunya.

Ngomong-ngomong tentang pentas seni SMA, acara hura-hura itu dalam satu malam meghabiskan dana ratusan juta yang diperoleh dari hasil menggandeng sponsor-sponsor dan donatur. Panggung yang megah dengan sound system dan lighting berdaya ratusan ribu watt. Dan salah satu “misi lingkungan” mereka adalah menyumbangkan sekian persen profit penjualan tiket untuk menanam bibit pohon di penjuru Kota Bandung.

bintang tamu, magnet utama bazaar SMA

Sungguh menggelikan. Dalam satu malam itu, betapa besar kwh listrik yang mereka gunakan. Membuat listrik itu tentu tidak gratis, dan tak bisa dipungkiri kita masih bergantung pada PLTD yang menggunakan solar atau batu bara. Dan solar maupun batu bara pasti menghasilkan emisi karbon ketika dibakar. Sebandingkah polusi itu dengan usaha mereka menanami pohon dari secuil profit?

Seandainya saja mereka bisa berpikir sedikit lebih panjang. Uang ratusan juta itu jika digunakan seratus persen untuk menanam pohon tentu akan lebih bermanfaat.

Dunia saat ini tidak sekedar membutuhkan acara-acara musik atau pidato politik untuk menyelamatkan lingkungan. Kita harus bergerak membangun bahtera Nuh yang baru. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan sendiri, seperti mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, hemat listrik, memelihara dan menanam pohon. Yang terpenting, semangat membangun bahtera Nuh itu harus hidup dalam hati kita.

Time Magazine

23
Des
07

Aku, Indonesia, dan Malaysia

Suatu hari, sebuah SMS mampir di ponsel saya.
superdanny 09-Dec-07 20:29 “anjaree! check this out: ihateindon.blogspot.com. tae malay.”

(tidak disarankan untuk mengklik link di atas)

Apa gerangan isi blog tersebut? ihateindon ternyata merupakan sebuah blog yang didedikasikan demi mencaci-maki negara saya, Indonesia, lengkap dengan segala atribut plus rakyatnya.

Kita berputar sejenak pada setting kondisi sosial bilateral saat itu. Indonesia dan Malaysia sedang mengalami ketegangan yang dipicu oleh klaim Malaysia atas angklung dan penggunaan lagu “Rasa Sayange” dalam media promosi pariwisatanya. Pada saat itu pula, saya baru mengetahui bahwa orang Indonesia punya nickname di Malaysia: Indon.

Wajar sekali bagi seseorang seusia saya untuk menanggapinya dengan emosi. Marah dan sedih, memuncak semakin klimaks seiring halaman blog saya roll-down. Saya sempatkan membuka halaman-halaman komentar terhadap posting-posting blog itu. Kira-kira 90% adalah orang Indonesia yang mengisi. Dan kira-kira sebanyak itu juga yang mengirimkan balasan berupa sumpah-serapah-isi-kebunbinatang-dan-rumahbordil.

Saya sedih membaca posting. Tapi saya lebih sedih dan malu membaca komentar-komentar barbar tersebut. Saya tiba-tiba tersentak oleh kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Manusia harus adil sejak dalam pikiran!”. Apakah saya sudah menilai posting tersebut secara proporsional? Ternyata belum.

Apa yang diungkapkan ihateindon bukanlah semata-mata kebohongan, melainkan fakta yang disajikan lewat sudut pandang yang ekstrem. Benar bahwa Republik kita tidak pernah lagi menghargai nilai budaya asli bangsa. Mana ada event yang diadakan pemerintah sebagai media apresiasi seni tradisi saat ini? Sejatinya hal itulah yang perlu ada, agar semua orang tahu “ini loh kesenian tradisional kita… keren kan?”. Mungkin klaim terhadap warisan leluhur kita itu memang suatu hal yang pasti terjadi, tinggal menunggu siapa-kapan-di mana saja. Kebetulan saja Malaysia adalah peserta “lucky number one”…….

Terlepas dari itu, ihateindon adalah sarana nasionalisme yang bagus sekali. Dari dialektika di blog itulah saya baru mengetahui mengapa bendera Indonesia berwarna merah-putih. Saat masih kecil saya pernah mengerutkan dahi melihat kesamaan antara bendera Indonesia dan Monako: siapa kiranya mencontek siapa? Ternyata warna merah-putih itu adalah warisan imperium Kerajaan Majapahit. Warna merah-putih telah digunakan dalam panji-panji yang dikibarkan kerajaan itu ketika melakukan ekspansi menyatukan Nusantara di masa lampau. Bahkan saat ini warna merah-putih masih menyimpan makna sakral di Bali dalam upacara-upacara keagamaan.

Mengapa orang Indonesia marah dipanggil Indon? Bukankah umum dijumpai seorang Perancis dipanggil French atau mungkin seorang Finlandia dikatakan Finnish? Rupanya orang Indonesia menganggap panggilan Indon merendahkan martabat mereka, serupa-tapi-tak-sama dengan panggilan Chokin bagi etnis Tionghoa. Ngomong-ngomong, yang membuat nama Chokin itu sebenarnya orang Indonesia juga. Paradoks, bukan?

Yang paling saya sesalkan dari manusia-manusia-yang-tidak-adil-sejak-dalam pikiran pembaca blog tersebut adalah mereka malah membuat sebuah dotcom balasan: malingsia.com

Ya, bukan di blogspot, wordpress, atau penyedia gratis lainnya melainkan langsung sebuah dotcom yang berbayar. Ada saja orang yang mau menghibahkan uangnya untuk hal seperti ini… Isinya tak jauh berbeda dengan ihateindon tapi dari sudut pandang orang Indonesia. Panggilan Indon dibalas dengan panggilan Malingsia, yang dalam logat Sunda bisa dibaca menjadi Maling siah: ungkapan sangat kasar untuk memanggil seorang pencuri (Maling kamu). Sudah jelas bukan apa yang mereka klaim telah dicuri Malaysia?

Ya, genderang perang telah ditabuh. Konfrontasi era Soekarno dilanjutkan, tapi kali ini bukan lagi di medan rimba, melainkan di dunia cyber.

Saya yang baru tahu hal ini pada hari saya memperoleh SMS itu benar-benar dibuat heran. Kita berdua adalah negara yang puluhan tahun bertetangga. Puluhan tahun pula dendam coba kita tutup-tutupi dan sewaktu-waktu meledak ketika dipicu.

APA TIDAK CAPEK???

Tidak bisakah kita hidup seperti layaknya tetangga: bisa ngobrol-ngobrol santai tiap sore di serambi rumah sambil main catur, ditemani beberapa cangkir teh mungkin?

Tapi mari tarik kesadaran kita ke saat ini. Saya baru saja mencoba membuka ihateindon. Gagal. Yang muncul adalah halaman Blogger yang meminta verifikasi jikalau saya adalah pemilik ihateindon. Dengan kata lain, ihateindon telah ditutup (untuk jangka waktu yang tidak jelas).

Saya tidak tahu siapa yang malang siapa yang beruntung. ihateindon “kalah” karena menulis di sebuah penyedia layanan gratis yang bersedia menutup blog tersebut setelah sekian ribu orang mem-flag-nya. malingsia masih bisa berjalan mulus dengan dotcomnya, sampai jangka waktu sewanya habis mungkin. Uang berbicara.

Saya benar-benar menunggu, kapan kiranya masyarakat Indonesia bisa jadi dewasa, paling tidak untuk menjadi “adil sejak dalam pikiran”?




ryansight

Saya menikmati waktu sendiri, ketika saya bebas menjadi diri saya seutuhnya dan melakukan apa yang benar-benar saya suka. Merenung, berandai-andai, membaca sesuatu yang inspiratif, menikmati musik psikedelik atau jazz, menonton film yang membelalakkan mata, dan menulis. Ya, dulu saya sempat punya keinginan muluk-muluk ingin menginspirasi banyak orang. Tapi menulis memberi saya lebih dari itu: sebuah sesi terapi yang bisa membuat saya tetap "waras" di tengah kerasnya tabrakan nilai-nilai hidup. Pernah dengar "dialektika"? Tesis, antitesis, sintesis. Mari bertukar pikiran.
ryansight menghitung hari menuju UN 2009 dan SNMPTN 2009 serta mengucapkan selamat bertarung bagi rekan-rekan seperjuangan.

kita berbicara tentang apa saja

Muhammad Aprianto Ramadhan's Facebook profile

berani menggali ide baru?

 

November 2009
S S R K J S M
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

kutipan

"Hidup tanpa harta adalah kesengsaraan. Hidup tanpa ilmu adalah kegelapan. Hidup tanpa cinta adalah penderitaan. Namun bencana paling buruk adalah hidup tanpa pemaknaan, karena sebenarnya Anda tidak benar-benar hidup..." - ryansight