Seorang teman menanyakan mengapa ryansight telah vakum untuk sekian lama. Ya, hal itu bukan tak pernah masuk dalam pikiran saya. Saya merasa iri melihat blog-blog lain bisa terunggah dengan konsisten tiap beberapa jangka waktu tertentu. Saya pun merasa kehilangan sebuah tempat untuk bereksistensi.
Ada beberapa faktor. Kegiatan yang demikian sibuk(?) mengesampingkan sementara kebutuhan untuk merenung dan mengolah hasilnya ke dalam tulisan. Ditambah lagi dengan kesulitan akses internet dan ya, bahkan akses dengan komputer. Beberapa waktu ini saya berpisah cukup lama dengan Microsoft Word dan kawan-kawan. Tapi harus saya akui, itu bukan faktor utamanya.
Beberapa waktu yang lalu, misalnya, saya sempat mengunjungi warnet. Membuka wordpress. Membuka halaman posting baru. Menulis judul. Membuat satu paragraf pertama. Berhenti. Memandangi hasilnya. Dan pindah halaman sejenak ke situs lain. Kembali ke wordpress. Tidak bisa melanjutkan. Macet. Akhirnya log out dari wordpress.
Ya, rupanya saya terbentur pada writer’s block.
Writer’s block saya tejemahkan sebagai suatu keadaan ketika seorang penulis tidak bisa melanjutkan atau bahkan memulai suatu karya. Rasanya semua penulis pernah merasakan hal ini. Harper Lee hanya bisa menelurkan satu karya Pulitzer Prize, “To Kill A Mockingbird”, dan tidak pernah menyelesaikan novel keduanya yang dibiarkan menggantung begitu saja. Itu contoh ekstremnya.
Yang saya alami, block ini disebabkan oleh perfeksionisme saya. Sungguh berat rasanya setelah tahu tulisan ini dibaca oleh segmen yang luas, dengan intrepretasi yang berbeda-beda. Dan judgement yang bervariasi pula. Saya harus menulis sesuatu yang berbobot. Untuk mulai menulis sesuatu, saya cenderung untuk serba menunggu-nunggu: mood yang tepat, tema yang tepat, pesan yang tepat, diksi yang tepat, judul yang tepat, waktu menulis yang tepat. Belum apa-apa saya sudah terbentur pada tembok tinggi yang tampaknya sulit dipanjat.
Kemarin dulu saya membaca lagi sebuah kumpulan esai Bertrand Russel koleksi perpustakaan sekolah yang sudah saya anggap hak milik. Pengantar buku itu menyebutkan bahwa Bertrand Russel membiasakan dirinya menulis minimal 3000 kata per hari! Hasilnya adalah esai-esai menakjubkan dan lebih dari 40 buku sepanjang hidupnya dengan bahasan dari filsafat sampai matematika. Bayangkan itu, 3000 kata! Bahkan sampai akhir kalimat ini saya baru menulis 338 kata!
Akhirnya saya tiba pada kesimpulan: konsistensi hanya bisa diwujudkan dengan… konsistensi. Maksudnya, jika saya menginginkan blog ini bisa terunggah secara konsisten, maka mulailah menulis dan cobalah lakukan itu dengan paksaan-diri. Dan buatlah komitmen dengan diri sendiri kalau ini bisa dilakukan.
Tahukah Anda, pada titik ini saya telah berhasil, paling tidak sekali, mengalahkan writer’s block. Ironisnya, ia saya kalahkan justru dengan membahas dirinya sendiri. Dengan posting ini.
Hidup memang tentang menabrakkan diri pada tembok-tembok tinggi yang kita ciptakan sendiri, dan kita hanya bisa maju jika berani mencoba seberapa tinggi kita bisa memanjat untuk melampauinya.




apa kata dunia?