Arsip untuk Kategori 'Renungan'

21
Feb
09

Dokter Ernesto

Ia adalah salah seorang manusia besar dari abad yang lalu. Sosok yang melegenda ini mungkin adalah dokter paling terkenal, sekaligus yang paling tidak terkenal sebagai seorang dokter.

Ernesto

Ernesto

Lanjutkan membaca ‘Dokter Ernesto’

29
Okt
08

Apa Kabar Kejujuran?

Siang tadi guru Fisika saya memulai kelas dengan menyatakan keterkejutannya pada kami. Beliau merasa “bangga” karena kami telah mencapai nilai rata-rata amat tinggi dalam UTS kemarin: 72. Wah, kami sangat senang karena itu berarti sebagian besar siswa memperoleh nilai yang memuaskan.

Guru Fisika saya itu heran karena pencapaian tersebut jomplang dengan nilai ulangan harian kami. Beliau kemudian membacakan nama-nama mereka yang memperoleh nilai tertinggi. Beberapa nama memang sesuai harapan. Tapi ada juga nama-nama yang membuat saya mengerutkan kening. Wah, hebat sekali dia, batin saya. Anehnya, nama-nama tidak familiar itu kesemuanya mendapat nilai yang persis sama.

Saya mencoba berprasangka baik. Semua orang belajar dengan keras sehari sebelum ulangan tersebut: minta tambahan di bimbel, latihan soal-soal, belajar bersama, bangun tengah malam untuk belajar. Tapi mata, telinga, dan hati tidak bisa dibohongi. Saya menyaksikan apa saja yang terjadi di ruangan sebelum dan selama ujian berlangsung. Telepon genggam yang disembunyikan dari pengawas, getar atau nada panggilannya ketika menerima pesan singkat, kode-kode dan bisik-bisik di belakang pengawas, semuanya tak luput dari perhatian. Pertukaran informasi dilakukan diam-diam, pelan-pelan, hingga demikian berisik. Ketidakjujuran, Saudara-saudari, dirayakan besar-besaran tanpa malu, seperti korupsi di negara ini.

Lanjutkan membaca ‘Apa Kabar Kejujuran?’

13
Apr
08

Mencoblos, Lalu Apa?

Ketika saya menulis posting kali ini, masih sayup-sayup terdengar suara penghitungan suara di TPS yang berjarak hanya beberapa rumah. Hari ini provinsi di mana saya tinggal untuk pertama kalinya melaksanakan pemilihan gubernur secara langsung. Saya tidak berpartisipasi. Pertama, saya baru mencapai usia pemilih dua hari yang lalu, sehingga praktis belum terdaftar sebagai pemilih. Kedua, jika terdaftar sekali pun, saya tidak tahu akan memilih siapa.

Apa yang membedakan minggu-minggu ini dengan minggu-minggu lainnya hanyalah tumbuhnya baliho di mana-mana, memampang wajah pasangan calon gubernur dan wakilnya. Persis seperti iklan restoran fast-food di sebelahnya yang sedang mempromosikan menu paket hemat. Bahkan iklan fast-food itu jauh lebih informatif daripada gambar dua orang berjas itu. Maksud saya, iklan fast-food itu sama-sama menempatkan ilustrasi, seporsi nasi dengan dua potong ayam goreng tepung dan segelas softdrink plus harganya. Namun saya bisa dengan langsung mempertimbangkan bahwa paket hemat tersebut memang mampu mengenyangkan perut dan harganya lebih murah daripada restoran saingannya dan suatu saat mungkin saya akan mampir untuk makan di sana. Sedangkan baliho pasangan calon kepala daerah tadi? Saya cuma tahu wajah mereka, nomor urut mereka, akronim nama mereka, dan slogan mereka. Cuma itu. Membingungkan dan tidak jelas. Saya tidak memperoleh alasan yang jelas mengapa harus memilih mereka. Mungkin lain kali mereka perlu merekrut tim marketing restoran fast-food untuk menciptakan strategi kampanye yang lebih menjual. :)

Baiklah, marilah meninggalkan strategi kampanye yang bukan ruang lingkup kita. Ini tentang sesuatu yang lebih banyak menyangkut hidup kita.

Ini adalah pertama kalinya provinsi ini memilih gubernur secara langsung. Ada tiga pasangan yang bersaing: gubernur yang sedang menjabat, tokoh nasional yang pernah menjadi calon wakil presiden, bahkan aktor film action. Dari berbagai media, saya bisa melihat betapa besar harapan masyarakat dengan adanya pemilihan ini. Semua sudah lelah dengan kondisi ekonomi saat ini; kemajuan, itulah yang diinginkan semuanya.

Sayang, banyak di antara kita yang masih hidup di Negeri Dongeng. Mereka ikut mencoblos, dan berharap gubernur baru adalah Nirmala yang dengan mengayunkan tongkat wasiat sambil berucap “Simsalabim!” akan menciptakan keajaiban. Ya, mereka menganggap hanya dengan mencoblos gubernur baru, segala-galanya akan berubah.

Masyarakat kita masih memandang demokrasi dalam perspektif begitu sederhana: mencoblos dalam pemilu. Selesai mencoblos, kewajiban pun tuntas; sang pemimpin yang terpilih dibiarkan mengemban tugas pemerintahan begitu saja hingga pemilu selanjutnya tiba.

Salah satu mata rantai yang hilang dalam demokrasi kita adalah partisipasi masyarakat. Demokrasi dianggap mewah dan tidak dijalankan setiap hari: ia hanya dilaksanakan lima tahun sekali dan dirayakan besar-besaran dengan biaya bertrilyun rupiah sebagai pesta demokrasi. Dan setelah pesta itu selesai, semua kembali pada rutinitas masing-masing, lupa dengan pemimpin yang terpilih, hingga tiba pesta berikutnya.

Tidak heran partisipasi politik masyarakat kita masih rendah. Prioritas utama yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya agar besok bisa makan, bisa membayar uang sekolah, bisa beli minyak tanah untuk masak, bisa beli bensin. Tentu memikirkan apa kerja pemerintah ada di bawah semua itu. Perubahan seperti apa yang akan terjadi tanpa masukan dan pengawasan masyarakat dalam proses pembutan kebijakan?

Gubernur baru saja, menurut saya, tidak akan membawa perubahan signifikan. Memang ada program-program yang dijanjikan sejak kampanye. Namun staf pemerintahan masih yang itu-itu juga, tidak mungkin terjadi peningkatan kapasitas kerja yang tiba-tiba. Satu-satunya yang bisa diubah adalah etos kerja yang baru dalam kantor pemerintah, bagaimana pemimpin yang baru bisa mendorong stafnya untuk bekerja lebih efisien dan tak kenal lelah dalam melayani masyarakat.

Perubahan yang signifikan tidak akan terjadi hanya dengan adanya gubernur yang baru. Masyarakat yang dipimpin masih itu-itu juga, dengan perilaku yang juga begitu-begitu saja. Pemimpin baru memang membawa program-program baru serba canggih, namun apa gunanya jika perilaku masyarakat masih seperti dulu dan enggan ikut berubah? Tidak ada yang jelek dari Perda K3, tapi ketidakpedulian masyarakat untuk mengubah perilakunya telah menggagalkan kebijakan ini. Sekali lagi, gubernur baru tidak akan membawa perubahan signifikan.

Bodoh jika kita melepaskan tanggung jawab sepenuhnya untuk menciptakan perubahan pada walikota baru, gubernur baru, presiden baru, atau pemimpin baru di tingkat manapun. Itulah sebabnya berkali-kali kita mengganti pemimpin dan kondisi yang kita rasakan masih begini-begini saja. Kita sudah tertinggal jauh dibandingkan bangsa-bangsa lain, yang harus kita lakukan adalah berlari dua, tiga kali lebih cepat dari yang sekarang. Mulai dari diri kita sendiri.

Coba introspeksi, adakah keinginan kita untuk berubah? Apa yang telah kita lakukan selain sekedar mencoblos? Maukah kita mengubah etos kerja yang kita miliki saat ini untuk bekerja lebih produktif? Bisakah kita meluangkan waktu sejenak untuk mengkritisi kebijakan pemerintahan?

Selamat dalam pemilihan umum kali ini lebih tepat tidak ditujukan untuk gubernur baru yang terpilih, melainkan kepada masyarakat. Selamat berubah.

08
Jan
08

Rehumanisasi: Perjalanan Bersama Sahabat

Bagaimana kesan pertama Anda ketika membaca posting-posting sebelumnya di blog ini?

Mungkin Anda bisa merasakan bahwa tulisan-tulisan yang saya tulis kurang manusiawi. Hampir tidak ada emosi, semuanya disajikan dengan menjunjung tinggi tata cara berpikir logis, sekaku dan selugas menjelaskan “dua tambah dua sama dengan empat”.

Mungkin Anda juga berpikir bahwa saya adalah orang yang memandang hidup dengan cara yang berat. Semua sistem salah dan harus dirombak, hari ini juga. Seperti tidak ada hari esok.

Apa yang Anda tangkap itu tidaklah salah. Seperti apa diri saya, itu akan mempengaruhi apa yang saya pikirkan dan lakukan. Akhir-akhir ini, memang seperti itulah cara saya memandang diri sendiri. Berat, mendalam, penuh tuntutan untuk menjunjung tinggi logika, dan mengesampingkan emosi. Kurang manusiawi.

Sampai Sabtu lalu ada sebuah perjalanan.

****

Saya terbangun lebih pagi dari hari-hari biasanya. Ketika saya berjalan keluar kamar, saya menemukan tubuh teman-teman yang masih tertidur di ruang tengah. Beberapa sudah ada yang bangun, membuat segelas kopi untuk menghangatkan diri. Lebih banyak lagi yang masih berada di dalam kamar, menolak untuk bangun dan melawan rasa dingin.

Saya berjalan menuju balkon barat di lantai dua rumah peristirahatan yang kami tempati ini. Masih sepi, dan lebih dingin lagi di luar sini. Dari balkon, saya bisa melemparkan pandangan hingga jauh.

Burangrang

Saya selalu suka dengan pagi hari. Langit pagi ini cerah, seolah baru kembali dari laundry, setelah beberapa hari belakangan hujan tak kenal ampun mengguyur Kota. Warna langit dari turquoise bergradasi ke biru muda, lalu biru langit. Biru sebiru-birunya biru. Awan-awan sirrus putih tipis berlapis-lapis, seperti tabir buat langit yang malu dilihat wajahnya saat baru bangun tidur. Di sana-sini, gumpalan awan kumulus pembawa hujan melintasi angkasa ditiup angin, seolah mengancam sambil bercanda. Gunung Burangrang terlihat dekat sekali dari sini, namun tak ada kabut yang biasa mesra mencumbu puncaknya. Sinar matahari menyinari puncak gunung hingga bersemu kecokelatan, dan turun merayapi lembah pelan-pelan. Saya duduk mengamati semuanya ditemani secangkir kopi susu hangat dan kental, sungguh kenikmatan kelas tinggi.

Ada hal-hal indah yang kasat-mata, bisa disentuh, dan bisa dikecap seperti suasana pagi itu. Tapi ada juga hal-hal indah dan penting, yang tak kasat-mata, tak bisa disentuh, dan tak bisa dikecap. Saya merasakannya di tempat yang sama.

Berdua puluh sembilan, kami datang ke rumah peristirahatan di utara Bandung ini. Kami adalah rekan satu organisasi di sekolah, dan bulan ini adalah titik jenuh bagi banyak dari kami. Maka acara refreshing pun direncanakan, dan terlaksana hari Sabtu dan Minggu kemarin.

Banyak yang kami lakukan, mulai dari yang reflektif seperti sharing bersama. Yang mengenyangkan seperti makan dan ngemil. Hingga yang murni bersenang-senang dan bisa mengeratkan persahabatan seperti barbekyu tengah malam (yang membuat semua orang baru bisa tidur pukul dua pagi), main UNO, main boy-boyan, berfoto-foto, main kartu, main electone, main permainan masa kecil, nonton DVD, jalan-jalan….

Saya benar-benar menikmati keberadaan saya di tempat itu, bersama dengan semua sahabat saya di sana. Selama ini saya selalu mengenakan topeng “keseriusan” dan “profesionalitas”. Saya lebih sering menarik garis khayal dengan mereka, hanya sebatas partner organisasi. Tapi di tempat dan waktu itu, saya melebur bersama mereka, bebas menjadi diri saya sendiri, meninggalkan atmosfer kelam yang menekan saya selama ini.

Ternyata saya menemukan orang-orang yang paling bisa menerima diri saya apa adanya. Saya menemukan orang-orang yang mungkin tidak sejalan pikirannya, tapi apa yang kita perbincangkan bisa membuka cakrawala pandangan. Saya menemukan orang-orang hebat, yang tahu waktunya serius dan waktunya gila-gilaan. Dan nanti, ketika harus pulang ke Bandung lagi, hati saya memberontak tidak ingin meninggalkan mereka. Detik itu juga, saya tahu merekalah yang bernama sahabat.

gila-gilaan

Hal indah, tak kasat-mata, tak dapat disentuh, dan tak dapat dikecap yang saya temukan di balkon pagi itu adalah Persahabatan. Ia ada di hati saya, tak perlu ditangkap atau diimpulskan oleh indra, cukup dirasakan. Saya mungkin memandang hidup dengan kompleks dan berat, tapi kini saya tahu: saya tidak sendiri. Sahabat akan ada, menjadi sumber inspirasi, menjadi sumber energi yang masif dan tak bisa habis. Saya tidak sendiri.

Tiba-tiba saya merasa jadi lebih manusiawi.





ryansight

Saya menikmati waktu sendiri, ketika saya bebas menjadi diri saya seutuhnya dan melakukan apa yang benar-benar saya suka. Merenung, berandai-andai, membaca sesuatu yang inspiratif, menikmati musik psikedelik atau jazz, menonton film yang membelalakkan mata, dan menulis. Ya, dulu saya sempat punya keinginan muluk-muluk ingin menginspirasi banyak orang. Tapi menulis memberi saya lebih dari itu: sebuah sesi terapi yang bisa membuat saya tetap "waras" di tengah kerasnya tabrakan nilai-nilai hidup. Pernah dengar "dialektika"? Tesis, antitesis, sintesis. Mari bertukar pikiran.
ryansight menghitung hari menuju UN 2009 dan SNMPTN 2009 serta mengucapkan selamat bertarung bagi rekan-rekan seperjuangan.

kita berbicara tentang apa saja

Muhammad Aprianto Ramadhan's Facebook profile

berani menggali ide baru?

 

November 2009
S S R K J S M
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

kutipan

"Hidup tanpa harta adalah kesengsaraan. Hidup tanpa ilmu adalah kegelapan. Hidup tanpa cinta adalah penderitaan. Namun bencana paling buruk adalah hidup tanpa pemaknaan, karena sebenarnya Anda tidak benar-benar hidup..." - ryansight