“When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth.” – Sherlock Holmes.
![]()
Tidak sedikit orang yang saya temui membenci matematika. Saya merasa itu lucu. Walaupun terkadang saya pun pusing mengulik polinomial dan trigonometri, memecahkan sebuah soal memberikan saya kepuasan yang mungkin setara dengan sebuah impian yang sulit terwujud dalam realita, terutama di Indonesia. Menjadi detektif.
Apa bedanya memecahkan soal matematika dengan sebuah kasus? Soal memberikan Anda hampir semua hal yang perlu diketahui untuk memecahkannya. Tentu Anda juga harus memiliki bekal prinsip-prinsip matematika yang mendukung pemecahan soal tersebut. Dengan informasi dari soal, pengetahuan matematika yang cukup, kemampuan berpikir logis, dan tentunya kesabaran, soal matematika mestinya bukanlah sesuatu yang pantas muncul dalam mimpi buruk.
(Banyak orang menyerah setelah mencoba membaca sebuah soal yang panjang dengan banyak ketentuan dan perincian, mengira itu terlalu rumit dan sukar dipecahkan. Padahal seperti sebuah kasus, makin banyak perincian yang kita peroleh, makin terang jalan di hadapan kita untuk memecahkannya. Soal yang panjang memberikan banyak petunjuk yang sebenarnya justru memudahkan kita. Sadarkah Anda?)

Saya lebih dahulu menyukai cerita detektif dibandingkan matematika. Referensi pertama diberikan oleh teman saat kelas 4 SD: Detektif Conan (oleh Aoyama Gosho). Membaca cerita detektif berarti berlatih menjadi pembaca intensif, di mana kita didorong untuk menjadi pengamat yang baik dalam setiap kejadian yang tergambarkan, mencatat setiap informasi yang mungkin berhubungan, menganalisis motif orang-orang yang terlibat, dan mampu mengontemplasikan hubungan runut suatu peristiwa sehingga terbentuk simpulan. Kenalkah Anda pada perasaan tertantang ketika bertemu dengan suatu kasus yang begitu mustahil ditemukan pemecahannya? Atau sensasi kepuasan yang meluap ketika analisis Anda mengenai suatu kasus ternyata benar? Atau perasaan kagum ketika sesuatu yang tidak dapat Anda pahami ternyata mampu terjelaskan secara logis dan gamblang sehingga Anda menertawakan diri sendiri karena begitu bodoh tidak sampai memikirkannya? Coba tanyakan hal itu pada para mania cerita detektif. Saya bertaruh mereka semua mengenalnya.
Dari Conan, pelan-pelan saya berkenalan dengan Kindaichi (oleh Fumiya Sato dan Seiru Amagi), Sherlock Holmes (siapa lagi kalau bukan Sir Arthur Conan Doyle yang termasyhur), Detective School Q (lagi-lagi Fumiya Sato, Seimaru Amagi, dan Yozaburo Kanari), Miss Marple, dan Hercule Poirot (keduanya oleh ratu cerita detektif, Agatha Christie). Semakin banyak koleksi “kasus kriminal” di dalam memori saya, yang mungkin tidak akan saya temukan terjadi di dunia nyata (atau mungkin Indonesia?
). Cerita favorit saya sampai saat ini adalah Sepuluh Anak Negro oleh Agatha Christie (doakan saya sempat meresensinya di sini) dan Kasus Boneka Menari oleh Sir Arthur Conan Doyle.
Apa yang saya peroleh dari cerita-cerita detektif itu?
Mereka mendorong saya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Untuk memecahkan kasus, ada disiplin ilmu sangat luas yang bisa digunakan. Ternyata masih banyak hal-hal yang belum saya ketahui di dunia ini. Saya pun terdorong untuk membaca lebih banyak buku, belajar hal-hal baru, menjelajahi Wikipedia dan Google.
Saya juga belajar melihat suatu hal dari berbagai sisi. Kadang penulis dengan cerdiknya menempatkan plot cerita sehingga kecurigaan kita tertuju pada seseorang, padahal ia bukan si penjahat. Berkali-kali saya terkecoh dan mengalami kekecewaan karena ternyata analisis saya salah… Hal itu mendorong saya untuk tetap berhati-hati mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum benar-benar yakin. Terdengar terlalu serius? Memang di sanalah serunya.
Walaupun detektif terkesan sosok manusia setengah-dewa nan cerdas, tak jarang kita menemukan celah-celah gelap kepribadiannya. Detektif favorit saya, Holmes, misalnya, adalah pecandu kokain sejati. Ia memiliki alasan hanya kokain-lah yang bisa “merangsang” otaknya ketika kasus sedang sepi. Kindaichi memiliki kebiasaan yang, hm, mesum. Yah, mereka juga bukan sosok teladan yang sempurna, saya kira. Tapi metode analisis kasus mereka boleh lah diacungi jempol.
Jadi, apakah Anda juga “detektif amatir” seperti saya?

apa kata dunia?