Bagaimana kesan pertama Anda ketika membaca posting-posting sebelumnya di blog ini?
Mungkin Anda bisa merasakan bahwa tulisan-tulisan yang saya tulis kurang manusiawi. Hampir tidak ada emosi, semuanya disajikan dengan menjunjung tinggi tata cara berpikir logis, sekaku dan selugas menjelaskan “dua tambah dua sama dengan empat”.
Mungkin Anda juga berpikir bahwa saya adalah orang yang memandang hidup dengan cara yang berat. Semua sistem salah dan harus dirombak, hari ini juga. Seperti tidak ada hari esok.
Apa yang Anda tangkap itu tidaklah salah. Seperti apa diri saya, itu akan mempengaruhi apa yang saya pikirkan dan lakukan. Akhir-akhir ini, memang seperti itulah cara saya memandang diri sendiri. Berat, mendalam, penuh tuntutan untuk menjunjung tinggi logika, dan mengesampingkan emosi. Kurang manusiawi.
Sampai Sabtu lalu ada sebuah perjalanan.
****
Saya terbangun lebih pagi dari hari-hari biasanya. Ketika saya berjalan keluar kamar, saya menemukan tubuh teman-teman yang masih tertidur di ruang tengah. Beberapa sudah ada yang bangun, membuat segelas kopi untuk menghangatkan diri. Lebih banyak lagi yang masih berada di dalam kamar, menolak untuk bangun dan melawan rasa dingin.
Saya berjalan menuju balkon barat di lantai dua rumah peristirahatan yang kami tempati ini. Masih sepi, dan lebih dingin lagi di luar sini. Dari balkon, saya bisa melemparkan pandangan hingga jauh.

Saya selalu suka dengan pagi hari. Langit pagi ini cerah, seolah baru kembali dari laundry, setelah beberapa hari belakangan hujan tak kenal ampun mengguyur Kota. Warna langit dari turquoise bergradasi ke biru muda, lalu biru langit. Biru sebiru-birunya biru. Awan-awan sirrus putih tipis berlapis-lapis, seperti tabir buat langit yang malu dilihat wajahnya saat baru bangun tidur. Di sana-sini, gumpalan awan kumulus pembawa hujan melintasi angkasa ditiup angin, seolah mengancam sambil bercanda. Gunung Burangrang terlihat dekat sekali dari sini, namun tak ada kabut yang biasa mesra mencumbu puncaknya. Sinar matahari menyinari puncak gunung hingga bersemu kecokelatan, dan turun merayapi lembah pelan-pelan. Saya duduk mengamati semuanya ditemani secangkir kopi susu hangat dan kental, sungguh kenikmatan kelas tinggi.
Ada hal-hal indah yang kasat-mata, bisa disentuh, dan bisa dikecap seperti suasana pagi itu. Tapi ada juga hal-hal indah dan penting, yang tak kasat-mata, tak bisa disentuh, dan tak bisa dikecap. Saya merasakannya di tempat yang sama.
Berdua puluh sembilan, kami datang ke rumah peristirahatan di utara Bandung ini. Kami adalah rekan satu organisasi di sekolah, dan bulan ini adalah titik jenuh bagi banyak dari kami. Maka acara refreshing pun direncanakan, dan terlaksana hari Sabtu dan Minggu kemarin.
Banyak yang kami lakukan, mulai dari yang reflektif seperti sharing bersama. Yang mengenyangkan seperti makan dan ngemil. Hingga yang murni bersenang-senang dan bisa mengeratkan persahabatan seperti barbekyu tengah malam (yang membuat semua orang baru bisa tidur pukul dua pagi), main UNO, main boy-boyan, berfoto-foto, main kartu, main electone, main permainan masa kecil, nonton DVD, jalan-jalan….
Saya benar-benar menikmati keberadaan saya di tempat itu, bersama dengan semua sahabat saya di sana. Selama ini saya selalu mengenakan topeng “keseriusan” dan “profesionalitas”. Saya lebih sering menarik garis khayal dengan mereka, hanya sebatas partner organisasi. Tapi di tempat dan waktu itu, saya melebur bersama mereka, bebas menjadi diri saya sendiri, meninggalkan atmosfer kelam yang menekan saya selama ini.
Ternyata saya menemukan orang-orang yang paling bisa menerima diri saya apa adanya. Saya menemukan orang-orang yang mungkin tidak sejalan pikirannya, tapi apa yang kita perbincangkan bisa membuka cakrawala pandangan. Saya menemukan orang-orang hebat, yang tahu waktunya serius dan waktunya gila-gilaan. Dan nanti, ketika harus pulang ke Bandung lagi, hati saya memberontak tidak ingin meninggalkan mereka. Detik itu juga, saya tahu merekalah yang bernama sahabat.

Hal indah, tak kasat-mata, tak dapat disentuh, dan tak dapat dikecap yang saya temukan di balkon pagi itu adalah Persahabatan. Ia ada di hati saya, tak perlu ditangkap atau diimpulskan oleh indra, cukup dirasakan. Saya mungkin memandang hidup dengan kompleks dan berat, tapi kini saya tahu: saya tidak sendiri. Sahabat akan ada, menjadi sumber inspirasi, menjadi sumber energi yang masif dan tak bisa habis. Saya tidak sendiri.
Tiba-tiba saya merasa jadi lebih manusiawi.

apa kata dunia?