Pengait kata (tags) tulisan ‘ Internet

04
Jan
08

Internet dan Jalan Menuju Dystopia

Baru beberapa hari yang lalu, ketika menemani seorang sahabat hunting buku di Palasari, saya berjumpa dengan novel berjudul 1984 karya George Orwell, dalam versi Bahasa Indonesia terbitan Bentang Pustaka. Sudah sejak lama saya penasaran membaca novel ini setelah pertama kali dipromosikan oleh seorang teman (versi Bahasa Inggrisnya). Menurut teman saya itu, cerita novel ini berkisar pada suasana pemerintahan yang diktator, di mana terdapat Polisi Pikiran yang mengawasi gelombang-gelombang subversif terhadap pemerintah sejak dalam pikiran. Oke, terdengar keren, dan saya pun membeli buku ini.

1984

Orwell dalam 1984 benar-benar terasa memahitkan kehidupan di bawah pemerintahan yang totaliter. Negara tempat kisah ini berlangsung digambarkan sebuah Dystopia, lawan dari istilah Utopia (yang kalau diartikan secara bebas adalah tempat idaman manusia). Negara itu berada dalam perang dunia abadi; adanya kesenjangan sosial dan ekonomi yang gila-gilaan; pemerintahan bergantung pada satu sosok kharismatik; manipulasi sejarah oleh pemerintah; pengawasan amat-sangat ketat bagi seluruh aktivitas penduduk oleh alat bernama teleskrin (yang mirip sekali dengan televisi, bedanya teleskrin fungsinya dua arah: apa yang kita lakukan di depan teleskrin akan selalu dipantau, dan teleskrin ini tersebar di mana-mana).

Secara umum, novel yang ditulis tahun 1949 ini memang punya feel futuristik. Konon, banyak orang yang terpengaruh oleh 1984 dan menanti-nanti tahun 1984 dengan penuh kecemasan. Sayang sekali saya membenci ending-nya yang benar-benar tidak sesuai harapan saya.

Baik, cerita tentang novel itu hanya saya sajikan sekilas saja karena memang bukan topik yang akan kita bicarakan. Tapi tentu cuplikan di atas masih ada hubungannya.

Bayangkan semua apa yang kita lakukan diawasi. Bayangkan segala yang kita pikirkan bisa dipantau. Bayangkan apa-apa emosi yang kita rasakan dapat dilacak. Bayangkan semuanya kita kombinasikan dengan Pemerintah/Kekuasaan yang merangseki wilayah-wilayah individu tadi. Kita mendapatkan sebuah Dystopia.

Bukan saya namanya jika membayangkan tanpa mencoba mengetahui: bisakah itu terjadi?

Yang pertama saya perhitungkan adalah media seperti apakah yang bisa digunakan untuk melacak perbuatan, pikiran, dan perasaan manusia?

Dalam novel 1984, alat tersebut adalah teleskrin. Bisa jadi media itu televisi, namanya saja sudah mirip. Tapi karena pernah menulis karya ilmiah sederhana tentang TV, saya mengetahui mekanisme TV saat ini belum memungkinkan kemampuan dua arah. Selain itu, televisi juga aman dari campur tangan pemerintah. Buktinya tayangan-tayangan horor murahan, sinetron remaja, infotainment, kuis SMS, dan sampah-sampah lainnya saat ini masih subur dan tidak tersentuh (paling tidak, oleh republik kita). Jadi, saya menyimpulkan TV mungkin dipakai sebagai serangan lapis pertama, untuk fungsi pembodohan massal saja.

Mungkin media ini media lain. Mungkin media ini belum tersentuh oleh imajinasi Orwell di tahun 1949. Saya mengira-ngira, mungkinkah ia adalah internet?

Ya, saya rasa mungkin sekali. Sudah beberapa tahun belakangan ini kita tersapu dalam gelombang digitalisasi hampir semua aspek kehidupan. Saya membuat alamat e-mail dan sempat mencantumkan beberapa data pribadi, dan setidaknya IP address saya bisa dilacak. Saya membuat Friendster dan memasukkan data-data penting, seperti di mana saya bersekolah, siapa teman-teman saya, bagaimana kepribadian saya. Bank memberikan layanan internet banking. Dan saya membuat blog ini. Saya mencurahkan apa yang saya pikirkan ke dalam blog ini, dan semuanya bisa dilacak pakai Google jika tahu kata kunci yang tepat.

Rasanya semuanya menjadi tidak main-main lagi. Satu memori tiba-tiba muncul. Saya pernah membaca berita tentang Yahoo! China yang memberikan informasi tentang identitas seorang blogger (memakai e-mail Yahoo!). Blogger itu rupanya telah melakukan posting-posting subversif terhadap pemerintahnya (RRC). Dan blogger itu sukses dibawa ke meja peradilan. Oke…….

(catatan: mohon cek silang kebenaran adanya berita seperti itu, saya hanya mengandalkan ingatan saja.)

Jadi akhirnya saya menyimpulkan media itu telah ada pada internet. Faktor Dystopia yang perlu melengkapinya adalah pemerintahan totaliter saja.

Khayalan di atas tetaplah hanya khayalan, tapi saya percaya bahwa imajinasi tersebut mungkin terjadi (penyebabnya sudah saya utarakan di atas).

Saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Bagi saya internet adalah media kebebasan, bukan media pembredelan. Saya menulis di internet dengan semangat bahwa saya bebas menulis apa yang saya pikirkan, gratis (dan saya yakin teman-teman blogger yang lain pun punya semangat yang sama).

Yang harus kita lakukan bersama adalah mencegah kemungkinan adanya pemerintahan yang totaliter, yang seenaknya merangseki wilayah individu secara inkonstitusional. Pemerintah harus tetap tidak-tak-terbatas, konstitusi harus eksis dan berjalan, hukum ada dan menaungi semua aspek.

Bagaimanapun, menurut saya itu terjadi (seperti kata Bang Napi), bukan hanya karena ada niat pelakunya tapi juga karena ada kesempatan. Selama kita masih sadar dan menghormati hak asasi manusia, selama itulah kita bisa menghalangi kesempatan totaliterianisme di atas muka bumi Indonesia. Setuju?




ryansight

Saya menikmati waktu sendiri, ketika saya bebas menjadi diri saya seutuhnya dan melakukan apa yang benar-benar saya suka. Merenung, berandai-andai, membaca sesuatu yang inspiratif, menikmati musik psikedelik atau jazz, menonton film yang membelalakkan mata, dan menulis. Ya, dulu saya sempat punya keinginan muluk-muluk ingin menginspirasi banyak orang. Tapi menulis memberi saya lebih dari itu: sebuah sesi terapi yang bisa membuat saya tetap "waras" di tengah kerasnya tabrakan nilai-nilai hidup. Pernah dengar "dialektika"? Tesis, antitesis, sintesis. Mari bertukar pikiran.
ryansight menghitung hari menuju UN 2009 dan SNMPTN 2009 serta mengucapkan selamat bertarung bagi rekan-rekan seperjuangan.

kita berbicara tentang apa saja

Muhammad Aprianto Ramadhan's Facebook profile

berani menggali ide baru?

 

November 2009
S S R K J S M
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

kutipan

"Hidup tanpa harta adalah kesengsaraan. Hidup tanpa ilmu adalah kegelapan. Hidup tanpa cinta adalah penderitaan. Namun bencana paling buruk adalah hidup tanpa pemaknaan, karena sebenarnya Anda tidak benar-benar hidup..." - ryansight