Saya masih ingat cerita mengenai Nabi Nuh. Seorang manusia biasa yang mendapat wahyu dari Tuhan untuk membuat sebuah bahtera raksasa demi menyelamatkan kaumnya yang beriman dari mega-banjir.
Belum pernah dalam sejarah ada gerakan menyelamatkan kemanusiaan dari kemarahan alam seperti yang kita rasakan saat ini. Tapi hari ini saya tidak melihat cuma seorang Nuh; ada beribu-ribu Nuh di seluruh dunia yang tengah membangun bahtera baru bagi manusia.
Yang menjadi ancaman masih sama: mega-banjir yang dapat menenggelamkan daratan dunia. Namun kini ia datang lewat istilah populer: global warming. Pemanasan global yang dipicu oleh emisi karbon berlebihan dari aktivitas manusia modern.
Para pemimpin dunia menyempatkan waktunya untuk memikirkan efek negatif industrialisasi. Konferensi diselenggarakan. Perjanjian-perjanjian disepakati. Konsensus global kompak menyatakan: “Dunia hari ini dalam bahaya! Kita harus melakukan sesuatu!”.
Maknanya besar bagi dunia. Semua orang diajak memahami apa itu pemanasan global, efek rumah kaca, ozon, karbondioksida. Semua orang diajak memahami bahwa dirinya punya kontribusi dalam pemanasan global dan seharusnya punya andil pula dalam mengatasinya.
Terdengar indah. Ataukah hanya kedengarannya saja? Apa yang seharusnya menjadi semangat, spirit kemanusiaan, kini justru menjadi sebuah komoditas.
Yang ingin saya jadikan contoh tidak jauh-jauh dari kehidupan saya dan teman-teman. Sebuah SMA berniat mengadakan pentas seni dengan tema lingkungan hidup. Makna sadar lingkungan itu dibanalisasi ke dalam sebuah acara hedon satu malam, yang boro-boro bisa meningkatkan semangat untuk bergerak menyelamatkan dunia; tidak bisa dipungkiri, yang menyebabkan mereka datang malam itu adalah bintang tamunya.
Ngomong-ngomong tentang pentas seni SMA, acara hura-hura itu dalam satu malam meghabiskan dana ratusan juta yang diperoleh dari hasil menggandeng sponsor-sponsor dan donatur. Panggung yang megah dengan sound system dan lighting berdaya ratusan ribu watt. Dan salah satu “misi lingkungan” mereka adalah menyumbangkan sekian persen profit penjualan tiket untuk menanam bibit pohon di penjuru Kota Bandung.

Sungguh menggelikan. Dalam satu malam itu, betapa besar kwh listrik yang mereka gunakan. Membuat listrik itu tentu tidak gratis, dan tak bisa dipungkiri kita masih bergantung pada PLTD yang menggunakan solar atau batu bara. Dan solar maupun batu bara pasti menghasilkan emisi karbon ketika dibakar. Sebandingkah polusi itu dengan usaha mereka menanami pohon dari secuil profit?
Seandainya saja mereka bisa berpikir sedikit lebih panjang. Uang ratusan juta itu jika digunakan seratus persen untuk menanam pohon tentu akan lebih bermanfaat.
Dunia saat ini tidak sekedar membutuhkan acara-acara musik atau pidato politik untuk menyelamatkan lingkungan. Kita harus bergerak membangun bahtera Nuh yang baru. Dimulai dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan sendiri, seperti mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, hemat listrik, memelihara dan menanam pohon. Yang terpenting, semangat membangun bahtera Nuh itu harus hidup dalam hati kita.


apa kata dunia?