Suatu hari, sebuah SMS mampir di ponsel saya.
superdanny 09-Dec-07 20:29 “anjaree! check this out: ihateindon.blogspot.com. tae malay.”
(tidak disarankan untuk mengklik link di atas)
Apa gerangan isi blog tersebut? ihateindon ternyata merupakan sebuah blog yang didedikasikan demi mencaci-maki negara saya, Indonesia, lengkap dengan segala atribut plus rakyatnya.
Kita berputar sejenak pada setting kondisi sosial bilateral saat itu. Indonesia dan Malaysia sedang mengalami ketegangan yang dipicu oleh klaim Malaysia atas angklung dan penggunaan lagu “Rasa Sayange” dalam media promosi pariwisatanya. Pada saat itu pula, saya baru mengetahui bahwa orang Indonesia punya nickname di Malaysia: Indon.
Wajar sekali bagi seseorang seusia saya untuk menanggapinya dengan emosi. Marah dan sedih, memuncak semakin klimaks seiring halaman blog saya roll-down. Saya sempatkan membuka halaman-halaman komentar terhadap posting-posting blog itu. Kira-kira 90% adalah orang Indonesia yang mengisi. Dan kira-kira sebanyak itu juga yang mengirimkan balasan berupa sumpah-serapah-isi-kebunbinatang-dan-rumahbordil.
Saya sedih membaca posting. Tapi saya lebih sedih dan malu membaca komentar-komentar barbar tersebut. Saya tiba-tiba tersentak oleh kata-kata Pramoedya Ananta Toer, “Manusia harus adil sejak dalam pikiran!”. Apakah saya sudah menilai posting tersebut secara proporsional? Ternyata belum.
Apa yang diungkapkan ihateindon bukanlah semata-mata kebohongan, melainkan fakta yang disajikan lewat sudut pandang yang ekstrem. Benar bahwa Republik kita tidak pernah lagi menghargai nilai budaya asli bangsa. Mana ada event yang diadakan pemerintah sebagai media apresiasi seni tradisi saat ini? Sejatinya hal itulah yang perlu ada, agar semua orang tahu “ini loh kesenian tradisional kita… keren kan?”. Mungkin klaim terhadap warisan leluhur kita itu memang suatu hal yang pasti terjadi, tinggal menunggu siapa-kapan-di mana saja. Kebetulan saja Malaysia adalah peserta “lucky number one”…….
Terlepas dari itu, ihateindon adalah sarana nasionalisme yang bagus sekali. Dari dialektika di blog itulah saya baru mengetahui mengapa bendera Indonesia berwarna merah-putih. Saat masih kecil saya pernah mengerutkan dahi melihat kesamaan antara bendera Indonesia dan Monako: siapa kiranya mencontek siapa? Ternyata warna merah-putih itu adalah warisan imperium Kerajaan Majapahit. Warna merah-putih telah digunakan dalam panji-panji yang dikibarkan kerajaan itu ketika melakukan ekspansi menyatukan Nusantara di masa lampau. Bahkan saat ini warna merah-putih masih menyimpan makna sakral di Bali dalam upacara-upacara keagamaan.
Mengapa orang Indonesia marah dipanggil Indon? Bukankah umum dijumpai seorang Perancis dipanggil French atau mungkin seorang Finlandia dikatakan Finnish? Rupanya orang Indonesia menganggap panggilan Indon merendahkan martabat mereka, serupa-tapi-tak-sama dengan panggilan Chokin bagi etnis Tionghoa. Ngomong-ngomong, yang membuat nama Chokin itu sebenarnya orang Indonesia juga. Paradoks, bukan?
Yang paling saya sesalkan dari manusia-manusia-yang-tidak-adil-sejak-dalam pikiran pembaca blog tersebut adalah mereka malah membuat sebuah dotcom balasan: malingsia.com
Ya, bukan di blogspot, wordpress, atau penyedia gratis lainnya melainkan langsung sebuah dotcom yang berbayar. Ada saja orang yang mau menghibahkan uangnya untuk hal seperti ini… Isinya tak jauh berbeda dengan ihateindon tapi dari sudut pandang orang Indonesia. Panggilan Indon dibalas dengan panggilan Malingsia, yang dalam logat Sunda bisa dibaca menjadi Maling siah: ungkapan sangat kasar untuk memanggil seorang pencuri (Maling kamu). Sudah jelas bukan apa yang mereka klaim telah dicuri Malaysia?
Ya, genderang perang telah ditabuh. Konfrontasi era Soekarno dilanjutkan, tapi kali ini bukan lagi di medan rimba, melainkan di dunia cyber.
Saya yang baru tahu hal ini pada hari saya memperoleh SMS itu benar-benar dibuat heran. Kita berdua adalah negara yang puluhan tahun bertetangga. Puluhan tahun pula dendam coba kita tutup-tutupi dan sewaktu-waktu meledak ketika dipicu.
APA TIDAK CAPEK???
Tidak bisakah kita hidup seperti layaknya tetangga: bisa ngobrol-ngobrol santai tiap sore di serambi rumah sambil main catur, ditemani beberapa cangkir teh mungkin?
Tapi mari tarik kesadaran kita ke saat ini. Saya baru saja mencoba membuka ihateindon. Gagal. Yang muncul adalah halaman Blogger yang meminta verifikasi jikalau saya adalah pemilik ihateindon. Dengan kata lain, ihateindon telah ditutup (untuk jangka waktu yang tidak jelas).
Saya tidak tahu siapa yang malang siapa yang beruntung. ihateindon “kalah” karena menulis di sebuah penyedia layanan gratis yang bersedia menutup blog tersebut setelah sekian ribu orang mem-flag-nya. malingsia masih bisa berjalan mulus dengan dotcomnya, sampai jangka waktu sewanya habis mungkin. Uang berbicara.
Saya benar-benar menunggu, kapan kiranya masyarakat Indonesia bisa jadi dewasa, paling tidak untuk menjadi “adil sejak dalam pikiran”?

apa kata dunia?