Pengait kata (tags) tulisan ‘ Perjalanan

01
Feb
09

Semarang, Solo, Jogja (3): Stasiun Tawang, Kota Lama, dan Semawis!

Ini adalah jurnal perjalanan liburan semester saya bersama tiga orang teman pada awal Januari lalu. Rencana awal untuk mengunjungi Semarang dan Solo saja mendadak bergulir liar hingga akhirnya kami pun singgah ke Kota Gudeg, Yogyakarta.

Semarang

3 Januari 2009

Rencana awal, makan siang akan dilakukan di Rumah Makan Ayam Goreng Mbok Berek, rekomendasi dari Aldi. Namun, alamat yang ada di buku panduan peta Semarang membawa kami ke… bengkel mobil. Duh. Jalan terakhir, kami yang sudah terlanjur lapar bertaruh menjajal sebuah warung kaki lima di dekat sana. Ternyata enak! Menunya ayam bakar yang berbumbu manis dengan cocolan sambal pecel. Puas dan kenyang dengan harga yang murah.

Kami naik taksi ke Stasiun Tawang yang sekaligus dekat dengan Kota Lama. Taksi melaju ke utara, melintasi sebagian kecil Kota Lama. Uniknya, jalan raya di daerah Kota Lama tidak diaspal, tetapi dilapisi paving block saja. Tidak berapa jauh, kami tiba di stasiun. Stasiun Tawang adalah stasiun kereta api kedua yang dibangun Belanda di Indonesia. Sayang sekali, stasiun pertama kini hanya tinggal reruntuhan saja, sehingga praktis Tawang menjadi stasiun tertua di Indonesia. Beruntung saat itu sedang tidak banjir. Saya pernah melihat di televisi bagaimana Stasiun bisa terendam air hingga setengahnya saat air meluap!

depan-tawang

Lanjutkan membaca ‘Semarang, Solo, Jogja (3): Stasiun Tawang, Kota Lama, dan Semawis!’

01
Feb
09

Semarang, Solo, Jogja (2): Pagi Pertama di Semarang

Ini adalah jurnal perjalanan liburan semester saya bersama tiga orang teman pada awal Januari lalu. Rencana awal untuk mengunjungi Semarang dan Solo saja mendadak bergulir liar hingga akhirnya kami pun singgah ke Kota Gudeg, Yogyakarta.

Bandung dan Perjalanan

2 Januari 2009

Saya, Fakhry, dan Yorga berkumpul di sekolah untuk bersama-sama menuju pool bus Bandung Ekspress. Aldi rupanya terlambat sehingga langsung ke sana. Sekali lagi Aldi membuat kejutan: sebuah DSLR Canon EOS 40D! Alangkah bersyukurnya kami, ternyata ada juga yang membawa kamera (dan bagus pula!).

Bus berangkat dari Jalan Dr.Cipto pukul 19.00 WIB. Kami duduk bersebelahan; saya duduk bersama Aldi, Fakhry duduk dengan Yorga. Oh ya, agar efektif kami membuat pembagian tugas dalam perjalanan. Saya resmi ditunjuk sebagai project leader (merangkap seksi kesehatan, sebenarnya, karena yang lain tidak membawa obat-obatan pribadi! Coba Anda bayangkan!). Aldi yang membawa si seksi EOS 40D itu menjadi seksi dokumentasi. Yorga yang gemar berbincang akrab, bahkan dengan orang yang baru dikenal di jalan, menjadi humas. Fakhry yang ekonomis dan teliti menjadi bendahara.

Nampaknya perjalanan dengan bus non-AC ini menjadi pengalaman unik bagi Fakhry dan Yorga. Segala macam dikomentari: berbagai dagangan dan metode penawaran pedagangnya di Terminal Cicaheum, suara tangisan anak kecil dari bangku belakang, dan entah apa lagi, yang praktis membuat deretan bangku kami jadi paling berisik. Saya dan Aldi terjebak dalam percakapan panjang selama menempuh Bandung – Cirebon. Di Cirebon, bus berhenti dan kami turun untuk sholat Isya serta makan malam. Setelah bus berjalan kembali, masing-masing mulai jatuh tertidur.

Tidur saya tidak pulas. Posisi kursi di bus memang tidak senyaman itu. Ketika terbangun, saya iri melihat yang lain sepertinya begitu lelap. Konyolnya, ketika saya tertidur kembali, ada juga yang terbangun melihat ke sekeliling dan berpikir hal yang sama. Jadi, sebenarnya tidur kami semua tidak nyenyak.

Lanjutkan membaca ‘Semarang, Solo, Jogja (2): Pagi Pertama di Semarang’

08
Jan
08

Rehumanisasi: Perjalanan Bersama Sahabat

Bagaimana kesan pertama Anda ketika membaca posting-posting sebelumnya di blog ini?

Mungkin Anda bisa merasakan bahwa tulisan-tulisan yang saya tulis kurang manusiawi. Hampir tidak ada emosi, semuanya disajikan dengan menjunjung tinggi tata cara berpikir logis, sekaku dan selugas menjelaskan “dua tambah dua sama dengan empat”.

Mungkin Anda juga berpikir bahwa saya adalah orang yang memandang hidup dengan cara yang berat. Semua sistem salah dan harus dirombak, hari ini juga. Seperti tidak ada hari esok.

Apa yang Anda tangkap itu tidaklah salah. Seperti apa diri saya, itu akan mempengaruhi apa yang saya pikirkan dan lakukan. Akhir-akhir ini, memang seperti itulah cara saya memandang diri sendiri. Berat, mendalam, penuh tuntutan untuk menjunjung tinggi logika, dan mengesampingkan emosi. Kurang manusiawi.

Sampai Sabtu lalu ada sebuah perjalanan.

****

Saya terbangun lebih pagi dari hari-hari biasanya. Ketika saya berjalan keluar kamar, saya menemukan tubuh teman-teman yang masih tertidur di ruang tengah. Beberapa sudah ada yang bangun, membuat segelas kopi untuk menghangatkan diri. Lebih banyak lagi yang masih berada di dalam kamar, menolak untuk bangun dan melawan rasa dingin.

Saya berjalan menuju balkon barat di lantai dua rumah peristirahatan yang kami tempati ini. Masih sepi, dan lebih dingin lagi di luar sini. Dari balkon, saya bisa melemparkan pandangan hingga jauh.

Burangrang

Saya selalu suka dengan pagi hari. Langit pagi ini cerah, seolah baru kembali dari laundry, setelah beberapa hari belakangan hujan tak kenal ampun mengguyur Kota. Warna langit dari turquoise bergradasi ke biru muda, lalu biru langit. Biru sebiru-birunya biru. Awan-awan sirrus putih tipis berlapis-lapis, seperti tabir buat langit yang malu dilihat wajahnya saat baru bangun tidur. Di sana-sini, gumpalan awan kumulus pembawa hujan melintasi angkasa ditiup angin, seolah mengancam sambil bercanda. Gunung Burangrang terlihat dekat sekali dari sini, namun tak ada kabut yang biasa mesra mencumbu puncaknya. Sinar matahari menyinari puncak gunung hingga bersemu kecokelatan, dan turun merayapi lembah pelan-pelan. Saya duduk mengamati semuanya ditemani secangkir kopi susu hangat dan kental, sungguh kenikmatan kelas tinggi.

Ada hal-hal indah yang kasat-mata, bisa disentuh, dan bisa dikecap seperti suasana pagi itu. Tapi ada juga hal-hal indah dan penting, yang tak kasat-mata, tak bisa disentuh, dan tak bisa dikecap. Saya merasakannya di tempat yang sama.

Berdua puluh sembilan, kami datang ke rumah peristirahatan di utara Bandung ini. Kami adalah rekan satu organisasi di sekolah, dan bulan ini adalah titik jenuh bagi banyak dari kami. Maka acara refreshing pun direncanakan, dan terlaksana hari Sabtu dan Minggu kemarin.

Banyak yang kami lakukan, mulai dari yang reflektif seperti sharing bersama. Yang mengenyangkan seperti makan dan ngemil. Hingga yang murni bersenang-senang dan bisa mengeratkan persahabatan seperti barbekyu tengah malam (yang membuat semua orang baru bisa tidur pukul dua pagi), main UNO, main boy-boyan, berfoto-foto, main kartu, main electone, main permainan masa kecil, nonton DVD, jalan-jalan….

Saya benar-benar menikmati keberadaan saya di tempat itu, bersama dengan semua sahabat saya di sana. Selama ini saya selalu mengenakan topeng “keseriusan” dan “profesionalitas”. Saya lebih sering menarik garis khayal dengan mereka, hanya sebatas partner organisasi. Tapi di tempat dan waktu itu, saya melebur bersama mereka, bebas menjadi diri saya sendiri, meninggalkan atmosfer kelam yang menekan saya selama ini.

Ternyata saya menemukan orang-orang yang paling bisa menerima diri saya apa adanya. Saya menemukan orang-orang yang mungkin tidak sejalan pikirannya, tapi apa yang kita perbincangkan bisa membuka cakrawala pandangan. Saya menemukan orang-orang hebat, yang tahu waktunya serius dan waktunya gila-gilaan. Dan nanti, ketika harus pulang ke Bandung lagi, hati saya memberontak tidak ingin meninggalkan mereka. Detik itu juga, saya tahu merekalah yang bernama sahabat.

gila-gilaan

Hal indah, tak kasat-mata, tak dapat disentuh, dan tak dapat dikecap yang saya temukan di balkon pagi itu adalah Persahabatan. Ia ada di hati saya, tak perlu ditangkap atau diimpulskan oleh indra, cukup dirasakan. Saya mungkin memandang hidup dengan kompleks dan berat, tapi kini saya tahu: saya tidak sendiri. Sahabat akan ada, menjadi sumber inspirasi, menjadi sumber energi yang masif dan tak bisa habis. Saya tidak sendiri.

Tiba-tiba saya merasa jadi lebih manusiawi.





ryansight

Saya menikmati waktu sendiri, ketika saya bebas menjadi diri saya seutuhnya dan melakukan apa yang benar-benar saya suka. Merenung, berandai-andai, membaca sesuatu yang inspiratif, menikmati musik psikedelik atau jazz, menonton film yang membelalakkan mata, dan menulis. Ya, dulu saya sempat punya keinginan muluk-muluk ingin menginspirasi banyak orang. Tapi menulis memberi saya lebih dari itu: sebuah sesi terapi yang bisa membuat saya tetap "waras" di tengah kerasnya tabrakan nilai-nilai hidup. Pernah dengar "dialektika"? Tesis, antitesis, sintesis. Mari bertukar pikiran.
ryansight menghitung hari menuju UN 2009 dan SNMPTN 2009 serta mengucapkan selamat bertarung bagi rekan-rekan seperjuangan.

kita berbicara tentang apa saja

Muhammad Aprianto Ramadhan's Facebook profile

berani menggali ide baru?

 

November 2009
S S R K J S M
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

kutipan

"Hidup tanpa harta adalah kesengsaraan. Hidup tanpa ilmu adalah kegelapan. Hidup tanpa cinta adalah penderitaan. Namun bencana paling buruk adalah hidup tanpa pemaknaan, karena sebenarnya Anda tidak benar-benar hidup..." - ryansight