Pengait kata (tags) tulisan ‘ Renungan

29
Okt
08

Apa Kabar Kejujuran?

Siang tadi guru Fisika saya memulai kelas dengan menyatakan keterkejutannya pada kami. Beliau merasa “bangga” karena kami telah mencapai nilai rata-rata amat tinggi dalam UTS kemarin: 72. Wah, kami sangat senang karena itu berarti sebagian besar siswa memperoleh nilai yang memuaskan.

Guru Fisika saya itu heran karena pencapaian tersebut jomplang dengan nilai ulangan harian kami. Beliau kemudian membacakan nama-nama mereka yang memperoleh nilai tertinggi. Beberapa nama memang sesuai harapan. Tapi ada juga nama-nama yang membuat saya mengerutkan kening. Wah, hebat sekali dia, batin saya. Anehnya, nama-nama tidak familiar itu kesemuanya mendapat nilai yang persis sama.

Saya mencoba berprasangka baik. Semua orang belajar dengan keras sehari sebelum ulangan tersebut: minta tambahan di bimbel, latihan soal-soal, belajar bersama, bangun tengah malam untuk belajar. Tapi mata, telinga, dan hati tidak bisa dibohongi. Saya menyaksikan apa saja yang terjadi di ruangan sebelum dan selama ujian berlangsung. Telepon genggam yang disembunyikan dari pengawas, getar atau nada panggilannya ketika menerima pesan singkat, kode-kode dan bisik-bisik di belakang pengawas, semuanya tak luput dari perhatian. Pertukaran informasi dilakukan diam-diam, pelan-pelan, hingga demikian berisik. Ketidakjujuran, Saudara-saudari, dirayakan besar-besaran tanpa malu, seperti korupsi di negara ini.

Lanjutkan membaca ‘Apa Kabar Kejujuran?’

28
Jun
08

Bellum Omnium Contra Omnes*

(*: Lat: perang semua melawan semua)

Saya tidak tahan untuk mengkoreksi demikian kelirunya media massa kita saat ini dalam menggunakan istilah.

Drama tragedi kerusuhan demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR dikomentari sebagai aksi “anarkistis”. Di segi kebahasaan, ini sudah merupakan pleonasme; penggunaan secara berlebih-lebihan. Sama kelirunya dengan “pesimistis” dan “optimistis”. Cukuplah “anarkis” untuk menggambarkan kondisi yang bersifat anarki, pun demikian “pesimis” dan “optimis”.

Di segi keilmuan, komentar “anarkis” tidakkah terlalu naif? Anarkisme dijelaskan sebagai ideologi yang menentang segala bentuk pemerintahan legal dan melakukan berbagai cara untuk meruntuhkannya untuk menciptakan kondisi masyarakat tanpa pemerintahan. Sekarang bila kita tinjau, apakah aksi tersebut dapat digolongkan sebagai upaya menjatuhkan pemerintahan yang ada? Saya kira tidak. Sudah sejak lama tindakan kekerasan diberi julukan “anarkis”. Sayang media telah turut menyebarluaskan informasi yang salah mengenai anarkisme kepada publik kita.

Bulan ini rasanya kita makin kebal terhadap berita demonstrasi yang berujung kerusuhan di televisi. Kenaikan BBM memicu kerusuhan UNAS yang berujung pada gugurnya putra bangsa Alm. Maftuh Fauzi. Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan berkeyakinan(AKKBB) bentrok di Monas gara-gara silang pendapat mengenai Ahmadiyah. Terakhir kerusuhan di depan gedung DPR/MPR yang diklimaksi dengan pembakaran sebuah Avanza berplat merah.

Saya tidak berniat mengintervensi pandangan politik orang-orang itu. Toh saya juga punya pandangan sendiri dan tidak rela diintervensi.

Saya pun merasakan dampak kenaikan BBM. Selama satu hari boleh dibilang saya shock, karena sebelumnya tidak mengikuti berita dan suatu malam pemerintah (tiba-tiba) menaikkan harga BBM. Sebagai bagian umat, saya pun memahami paham Ahmadiyah memang melenceng dari akidah.

Persoalannya adalah cara saudara-saudara kita menyampaikan pandangan politik mereka pada Pemerintah (pada merekakah? Atau pada siapa?). Turun ke jalan beramai-ramai, aksi long march damai, orasi-orasi. Sampai di sana masih wajar. Namun ada kalanya pelan-pelan muncul “rasa terlindungi” dalam kelompok, “rasa aman”. Disambut oleh provokasi entah-siapa. Amarah terbakar. Demonstrasi pun berubah menjadi huru-hara.

Perhatikanlah huru-hara tersebut. Demikianlah mungkin laboratorium lapangan tempat kita bisa mengobservasi bagaimana Thomas Hobbes pernah memberikan julukan Homo homini lupus- manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Tidak ada lagi pandangan politik yang diperjuangkan, ini semua bukan tentang itu. Ini tentang adrenalin yang memuncak, batu-batu yang berdesing di atas kepala kita, ledakan bom-bom molotov, dan semburan gas air mata. Ditimpuk atau menimpuk. Dipukul atau memukul. Siapa menyerang berarti musuh. Tidak berani, maka lari, lari selamatkan dirimu. Sempurnalah kondisi bellum omnes contra omnium- perang semua melawan semua.

Ada, saya yakin, cara-cara yang lebih bermartabat dan lebih konsisten dalam memperjuangkan pandangan politik. Saya khawatir kita terjebak dalam euforia sepuluh tahun yang lalu, ketika demonstrasi besar-besaran berhasil menggulingkan rezim yang sudah 32 tahun bercokol. Era reformasi ditandai dengan meningkatnya secara tajam frekuensi unjuk rasa. Saya tidak mengatakan itu salah: itu sah dan dijamin haknya secara hukum. Yang saya coba utarakan adalah mau dibawa ke mana kedewasaan politik jika aspirasi hanya bisa disampaikan lewat demonstrasi- apalagi yang berujung kerusuhan?

Saat ini saya menggugat peran wakil-wakil rakyat di badan legislatif.. Mengapa sampai saat ini partai politik dan kadernya yang duduk di kursi Dewan belum menunjukkan kegiatan penghimpunan aspirasi dari rakyat yang diwakilinya, semisal membuka kantor pelayanan aspirasi, nomor hotline, atau katakanlah sekedar e-mail yang dirilis kepada konstituennya? Mengapa seolah-olah kami hanya didengar jika kami berdemonstrasi (Atau saya salah? Pernahkah Anda sekalian mendengar kami berdemonstrasi?)?

Saya, kami membutuhkan jalur yang lebih pragmatis untuk menyampaikan pandangan. Dengan begitu kami bisa memperjuangkan pandangan politik secara konsisten, dan jawabannya bukan kekerasan melainkan dialog. Sebab kami juga manusia.

(Terima kasih kepada Tb Andhika Nugraha atas koreksi judul di atas.)

13
Apr
08

Mencoblos, Lalu Apa?

Ketika saya menulis posting kali ini, masih sayup-sayup terdengar suara penghitungan suara di TPS yang berjarak hanya beberapa rumah. Hari ini provinsi di mana saya tinggal untuk pertama kalinya melaksanakan pemilihan gubernur secara langsung. Saya tidak berpartisipasi. Pertama, saya baru mencapai usia pemilih dua hari yang lalu, sehingga praktis belum terdaftar sebagai pemilih. Kedua, jika terdaftar sekali pun, saya tidak tahu akan memilih siapa.

Apa yang membedakan minggu-minggu ini dengan minggu-minggu lainnya hanyalah tumbuhnya baliho di mana-mana, memampang wajah pasangan calon gubernur dan wakilnya. Persis seperti iklan restoran fast-food di sebelahnya yang sedang mempromosikan menu paket hemat. Bahkan iklan fast-food itu jauh lebih informatif daripada gambar dua orang berjas itu. Maksud saya, iklan fast-food itu sama-sama menempatkan ilustrasi, seporsi nasi dengan dua potong ayam goreng tepung dan segelas softdrink plus harganya. Namun saya bisa dengan langsung mempertimbangkan bahwa paket hemat tersebut memang mampu mengenyangkan perut dan harganya lebih murah daripada restoran saingannya dan suatu saat mungkin saya akan mampir untuk makan di sana. Sedangkan baliho pasangan calon kepala daerah tadi? Saya cuma tahu wajah mereka, nomor urut mereka, akronim nama mereka, dan slogan mereka. Cuma itu. Membingungkan dan tidak jelas. Saya tidak memperoleh alasan yang jelas mengapa harus memilih mereka. Mungkin lain kali mereka perlu merekrut tim marketing restoran fast-food untuk menciptakan strategi kampanye yang lebih menjual. :)

Baiklah, marilah meninggalkan strategi kampanye yang bukan ruang lingkup kita. Ini tentang sesuatu yang lebih banyak menyangkut hidup kita.

Ini adalah pertama kalinya provinsi ini memilih gubernur secara langsung. Ada tiga pasangan yang bersaing: gubernur yang sedang menjabat, tokoh nasional yang pernah menjadi calon wakil presiden, bahkan aktor film action. Dari berbagai media, saya bisa melihat betapa besar harapan masyarakat dengan adanya pemilihan ini. Semua sudah lelah dengan kondisi ekonomi saat ini; kemajuan, itulah yang diinginkan semuanya.

Sayang, banyak di antara kita yang masih hidup di Negeri Dongeng. Mereka ikut mencoblos, dan berharap gubernur baru adalah Nirmala yang dengan mengayunkan tongkat wasiat sambil berucap “Simsalabim!” akan menciptakan keajaiban. Ya, mereka menganggap hanya dengan mencoblos gubernur baru, segala-galanya akan berubah.

Masyarakat kita masih memandang demokrasi dalam perspektif begitu sederhana: mencoblos dalam pemilu. Selesai mencoblos, kewajiban pun tuntas; sang pemimpin yang terpilih dibiarkan mengemban tugas pemerintahan begitu saja hingga pemilu selanjutnya tiba.

Salah satu mata rantai yang hilang dalam demokrasi kita adalah partisipasi masyarakat. Demokrasi dianggap mewah dan tidak dijalankan setiap hari: ia hanya dilaksanakan lima tahun sekali dan dirayakan besar-besaran dengan biaya bertrilyun rupiah sebagai pesta demokrasi. Dan setelah pesta itu selesai, semua kembali pada rutinitas masing-masing, lupa dengan pemimpin yang terpilih, hingga tiba pesta berikutnya.

Tidak heran partisipasi politik masyarakat kita masih rendah. Prioritas utama yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya agar besok bisa makan, bisa membayar uang sekolah, bisa beli minyak tanah untuk masak, bisa beli bensin. Tentu memikirkan apa kerja pemerintah ada di bawah semua itu. Perubahan seperti apa yang akan terjadi tanpa masukan dan pengawasan masyarakat dalam proses pembutan kebijakan?

Gubernur baru saja, menurut saya, tidak akan membawa perubahan signifikan. Memang ada program-program yang dijanjikan sejak kampanye. Namun staf pemerintahan masih yang itu-itu juga, tidak mungkin terjadi peningkatan kapasitas kerja yang tiba-tiba. Satu-satunya yang bisa diubah adalah etos kerja yang baru dalam kantor pemerintah, bagaimana pemimpin yang baru bisa mendorong stafnya untuk bekerja lebih efisien dan tak kenal lelah dalam melayani masyarakat.

Perubahan yang signifikan tidak akan terjadi hanya dengan adanya gubernur yang baru. Masyarakat yang dipimpin masih itu-itu juga, dengan perilaku yang juga begitu-begitu saja. Pemimpin baru memang membawa program-program baru serba canggih, namun apa gunanya jika perilaku masyarakat masih seperti dulu dan enggan ikut berubah? Tidak ada yang jelek dari Perda K3, tapi ketidakpedulian masyarakat untuk mengubah perilakunya telah menggagalkan kebijakan ini. Sekali lagi, gubernur baru tidak akan membawa perubahan signifikan.

Bodoh jika kita melepaskan tanggung jawab sepenuhnya untuk menciptakan perubahan pada walikota baru, gubernur baru, presiden baru, atau pemimpin baru di tingkat manapun. Itulah sebabnya berkali-kali kita mengganti pemimpin dan kondisi yang kita rasakan masih begini-begini saja. Kita sudah tertinggal jauh dibandingkan bangsa-bangsa lain, yang harus kita lakukan adalah berlari dua, tiga kali lebih cepat dari yang sekarang. Mulai dari diri kita sendiri.

Coba introspeksi, adakah keinginan kita untuk berubah? Apa yang telah kita lakukan selain sekedar mencoblos? Maukah kita mengubah etos kerja yang kita miliki saat ini untuk bekerja lebih produktif? Bisakah kita meluangkan waktu sejenak untuk mengkritisi kebijakan pemerintahan?

Selamat dalam pemilihan umum kali ini lebih tepat tidak ditujukan untuk gubernur baru yang terpilih, melainkan kepada masyarakat. Selamat berubah.

08
Jan
08

Rehumanisasi: Perjalanan Bersama Sahabat

Bagaimana kesan pertama Anda ketika membaca posting-posting sebelumnya di blog ini?

Mungkin Anda bisa merasakan bahwa tulisan-tulisan yang saya tulis kurang manusiawi. Hampir tidak ada emosi, semuanya disajikan dengan menjunjung tinggi tata cara berpikir logis, sekaku dan selugas menjelaskan “dua tambah dua sama dengan empat”.

Mungkin Anda juga berpikir bahwa saya adalah orang yang memandang hidup dengan cara yang berat. Semua sistem salah dan harus dirombak, hari ini juga. Seperti tidak ada hari esok.

Apa yang Anda tangkap itu tidaklah salah. Seperti apa diri saya, itu akan mempengaruhi apa yang saya pikirkan dan lakukan. Akhir-akhir ini, memang seperti itulah cara saya memandang diri sendiri. Berat, mendalam, penuh tuntutan untuk menjunjung tinggi logika, dan mengesampingkan emosi. Kurang manusiawi.

Sampai Sabtu lalu ada sebuah perjalanan.

****

Saya terbangun lebih pagi dari hari-hari biasanya. Ketika saya berjalan keluar kamar, saya menemukan tubuh teman-teman yang masih tertidur di ruang tengah. Beberapa sudah ada yang bangun, membuat segelas kopi untuk menghangatkan diri. Lebih banyak lagi yang masih berada di dalam kamar, menolak untuk bangun dan melawan rasa dingin.

Saya berjalan menuju balkon barat di lantai dua rumah peristirahatan yang kami tempati ini. Masih sepi, dan lebih dingin lagi di luar sini. Dari balkon, saya bisa melemparkan pandangan hingga jauh.

Burangrang

Saya selalu suka dengan pagi hari. Langit pagi ini cerah, seolah baru kembali dari laundry, setelah beberapa hari belakangan hujan tak kenal ampun mengguyur Kota. Warna langit dari turquoise bergradasi ke biru muda, lalu biru langit. Biru sebiru-birunya biru. Awan-awan sirrus putih tipis berlapis-lapis, seperti tabir buat langit yang malu dilihat wajahnya saat baru bangun tidur. Di sana-sini, gumpalan awan kumulus pembawa hujan melintasi angkasa ditiup angin, seolah mengancam sambil bercanda. Gunung Burangrang terlihat dekat sekali dari sini, namun tak ada kabut yang biasa mesra mencumbu puncaknya. Sinar matahari menyinari puncak gunung hingga bersemu kecokelatan, dan turun merayapi lembah pelan-pelan. Saya duduk mengamati semuanya ditemani secangkir kopi susu hangat dan kental, sungguh kenikmatan kelas tinggi.

Ada hal-hal indah yang kasat-mata, bisa disentuh, dan bisa dikecap seperti suasana pagi itu. Tapi ada juga hal-hal indah dan penting, yang tak kasat-mata, tak bisa disentuh, dan tak bisa dikecap. Saya merasakannya di tempat yang sama.

Berdua puluh sembilan, kami datang ke rumah peristirahatan di utara Bandung ini. Kami adalah rekan satu organisasi di sekolah, dan bulan ini adalah titik jenuh bagi banyak dari kami. Maka acara refreshing pun direncanakan, dan terlaksana hari Sabtu dan Minggu kemarin.

Banyak yang kami lakukan, mulai dari yang reflektif seperti sharing bersama. Yang mengenyangkan seperti makan dan ngemil. Hingga yang murni bersenang-senang dan bisa mengeratkan persahabatan seperti barbekyu tengah malam (yang membuat semua orang baru bisa tidur pukul dua pagi), main UNO, main boy-boyan, berfoto-foto, main kartu, main electone, main permainan masa kecil, nonton DVD, jalan-jalan….

Saya benar-benar menikmati keberadaan saya di tempat itu, bersama dengan semua sahabat saya di sana. Selama ini saya selalu mengenakan topeng “keseriusan” dan “profesionalitas”. Saya lebih sering menarik garis khayal dengan mereka, hanya sebatas partner organisasi. Tapi di tempat dan waktu itu, saya melebur bersama mereka, bebas menjadi diri saya sendiri, meninggalkan atmosfer kelam yang menekan saya selama ini.

Ternyata saya menemukan orang-orang yang paling bisa menerima diri saya apa adanya. Saya menemukan orang-orang yang mungkin tidak sejalan pikirannya, tapi apa yang kita perbincangkan bisa membuka cakrawala pandangan. Saya menemukan orang-orang hebat, yang tahu waktunya serius dan waktunya gila-gilaan. Dan nanti, ketika harus pulang ke Bandung lagi, hati saya memberontak tidak ingin meninggalkan mereka. Detik itu juga, saya tahu merekalah yang bernama sahabat.

gila-gilaan

Hal indah, tak kasat-mata, tak dapat disentuh, dan tak dapat dikecap yang saya temukan di balkon pagi itu adalah Persahabatan. Ia ada di hati saya, tak perlu ditangkap atau diimpulskan oleh indra, cukup dirasakan. Saya mungkin memandang hidup dengan kompleks dan berat, tapi kini saya tahu: saya tidak sendiri. Sahabat akan ada, menjadi sumber inspirasi, menjadi sumber energi yang masif dan tak bisa habis. Saya tidak sendiri.

Tiba-tiba saya merasa jadi lebih manusiawi.


04
Jan
08

Saya Percaya Kebetulan, Tapi Tidak Ramalan

Kebetulan di akhir tahun 2007 ini saya terkena flu yang parah, memaksa saya untuk hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur. Kebetulan lagi, kamar saya tidak sepenuhnya kedap suara. Dan kebetulan seseorang di ruang keluarga tengah menonton acara televisi. Benar-benar kebetulan, acara TV tersebut adalah acara infotainment, dan kebetulan host tersebut membuka sebuah topik seperti ini, “Seperti tahun-tahun sebelumnya, mari kita simak bagaimana ramalan Mama Laurent dan Ki Joko Bodo mengenai tahun 2008 nanti”.

Mama Laurent, bagaimana 2008?

Sampai di sana saya tidak tahan lagi dengan kebetulan yang beruntun tadi. Bukan soal kebetulannya, melainkan tentang ramalan tahun 2008 dari Mama Laurent, Ki Joko Bodo, Doraemon, Suzanna, atau siapapun.

(Ngomong-ngomong, saya percaya bahwa kebetulan memiliki maknanya sendiri. Kebetulan-kebetulan di atas yang membawa saya menulis posting ini. :-) )

Mengapa acara infotainment (seperti yang diakuinya sendiri) merasa perlu menampilkan “prediksi-prediksi” seperti itu setiap tahunnya?

Bukan hanya di televisi, ramal-meramal juga amat marak di majalah-majalah, biasanya diperuntukkan bagi kaum Hawa. Tiap minggu malah. Jika zodiak Anda Taurus, maka minggu ini Anda harus berhemat. Jika bintang Anda Gemini, komunikasi Anda dan pasangan harus lebih terbuka. (Bukankah nasehat-nasehat seperti itu benar-benar umum dan bisa saja diberikan kepada siapa saja-di mana saja-kapan saja? Anehnya, masih banyak saja yang percaya…).

Bukankah hal ini menarik, apa yang sebenarnya kita cari dari ramalan?

Baiklah, saya mencoba menghubungkannya dengan Teori Abraham Maslow tentang aktualisasi diri. Menurut Maslow, manusia punya beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai aktualisasi diri. Yang paling mendasar adalah kebutuhan fisiologis (makan, minum, tidur, ekskresi, seks, dll), dan yang kedua adalah rasa aman. Jadi rasa aman ini rupanya amat mendasar dalam motivasi manusia.

Mari kita coba lihat pada investasi di bursa saham. Investor tentu amat jarang sekali yang asal-asalan menanamkan modal pada suatu perusahaan. Minimal ia perlu melihat portofolio perusahaan tersebut, memeriksa neraca keuangannya, mengetahui resiko bisnis di bidang tersebut, dan sebagainya. Investor butuh memiliki kepercayaan pada perusahaan tersebut, sehingga ia bisa merasa aman membeli saham sebanyak yang ia mau.

Urusan ramal-meramal ini menurut saya tidak jauh-jauh dari rasa aman. Masa depan adalah sesuatu yang selalu bernilai fifty-fifty ketika ia belum terwujud; serba belum pasti. Padahal manusia lebih merasa aman dengan yang pasti-pasti. Manusia akan merasa lebih aman jika mengetahui sedikit tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Betulkah itu?

Ada antitesis yang cukup bagus, sebuah cerita dalam komik Doraemon. Nobita dipinjamkan teropong yang bisa dipakai melihat kejadian di masa depan. Ia cukup membayangkan tindakan yang ingin dilakukannya dan teropong itu akan memperlihatkan implikasi tindakan tersebut. Nobita akhirnya memang mengetahui pilihan mana yang terbaik, tapi ia jadi terlambat untuk sarapan karena terlalu sibuk dengan teropong itu dan semua rencana hari itu pun berantakan.

Doraemon dan kawan-kawan-Wikipedia

Begitulah menurut saya, ketika kita terlalu sibuk dengan ramalan-ramalan tentang masa depan. Kita jadi lupa melakukan sesuatu untuk hari ini: sesuatu senyata bangun tidur lebih awal yang seharusnya dilakukan Nobita.

Alangkah indahnya bila masa depan tetap menjadi misteri. Saya bebas terus bermimpi tanpa batas, saya bisa menjadi siapa pun yang saya inginkan. Apakah saya bisa melakukannya jika masa depan telah saya ketahui?

Buat saya, tidak mengetahui masa depan adalah pilihan yang terbaik. Dengan tidak apa yang telah digariskan, saya harus bermain all-out untuk menciptakan masa depan yang terbaik.

Ada sebuah quotes dari teman saya, Teh Irna, yang masih terus saya ingat. Beliau berkata:

“Satu-satunya cara meramalkan masa depan adalah dengan menciptakannya!”

Masuk akal, dan saya setuju.




ryansight

Saya menikmati waktu sendiri, ketika saya bebas menjadi diri saya seutuhnya dan melakukan apa yang benar-benar saya suka. Merenung, berandai-andai, membaca sesuatu yang inspiratif, menikmati musik psikedelik atau jazz, menonton film yang membelalakkan mata, dan menulis. Ya, dulu saya sempat punya keinginan muluk-muluk ingin menginspirasi banyak orang. Tapi menulis memberi saya lebih dari itu: sebuah sesi terapi yang bisa membuat saya tetap "waras" di tengah kerasnya tabrakan nilai-nilai hidup. Pernah dengar "dialektika"? Tesis, antitesis, sintesis. Mari bertukar pikiran.
ryansight menghitung hari menuju UN 2009 dan SNMPTN 2009 serta mengucapkan selamat bertarung bagi rekan-rekan seperjuangan.

kita berbicara tentang apa saja

Muhammad Aprianto Ramadhan's Facebook profile

berani menggali ide baru?

 

November 2009
S S R K J S M
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

kutipan

"Hidup tanpa harta adalah kesengsaraan. Hidup tanpa ilmu adalah kegelapan. Hidup tanpa cinta adalah penderitaan. Namun bencana paling buruk adalah hidup tanpa pemaknaan, karena sebenarnya Anda tidak benar-benar hidup..." - ryansight